Koltim, Mediasekawan.com – Sekitar 500 hektare sawah masyarakat di Kecamatan Mowewe, Kabupaten Kolaka Timur, terancam gagal panen setelah bendungan dan jembatan pengairan yang menjadi sumber irigasi utama jebol akibat tingginya intensitas hujan beberapa hari terakhir. Aliran air yang biasanya mengairi persawahan kini terputus, membuat tanaman padi yang masih berusia 1–2 bulan kekeringan pada masa kritis pertumbuhan.
Ketua Komisi II DPRD Koltim dari Fraksi Gerindra, Suprianto, ST., MT, menyatakan kondisi ini memerlukan penanganan cepat. Ia bersama Wakil Bupati dan sejumlah OPD terkait telah turun langsung meninjau lokasi kerusakan.
“Kami melihat sendiri kondisi bendung darurat yang jebol. Petani hanya punya waktu tiga minggu. Jika pasokan air tidak kembali normal, maka potensi gagal panen sangat besar,” tegasnya.
Suprianto mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah-langkah darurat, termasuk melakukan koordinasi resmi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Sulawesi Tenggara. Menurutnya, BWS sudah merespons dan siap membantu pengiriman bronjong serta alat berat untuk penanganan sementara.
Ia menjelaskan bahwa bendungan utama di lokasi tersebut sebenarnya telah jebol sejak 2020. Karena keterbatasan APBD Koltim, pemerintah hanya mampu membangun bendungan darurat menggunakan bronjong. Namun struktur itu kembali rusak diterjang banjir besar yang melanda wilayah tersebut.
“Untuk membangun bendungan permanen dibutuhkan anggaran yang sangat besar, mencapai Rp50 hingga Rp100 miliar. APBD Koltim belum mampu menanggung itu,” ujarnya.
Meski begitu, ia menilai peluang bantuan pusat semakin terbuka setelah terbitnya Inpres Irigasi Daerah tahun 2025 yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto. Inpres ini memungkinkan daerah dengan cakupan irigasi di bawah 3.000 hektare mengajukan dukungan anggaran APBN.
Selain bendungan, banjir juga memutuskan jembatan penghubung dua desa yang selama ini menjadi jalur vital petani membawa hasil panen ke titik penampungan. Menurut Suprianto, akses tersebut harus dipulihkan segera karena menentukan kelancaran distribusi gabah ke Bulog maupun pembeli swasta.
“Jembatan itu sangat penting sebagai jalur produksi dan distribusi. Jika tidak segera dibangun kembali, aktivitas pertanian akan semakin terhambat,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat bergerak cepat, baik dalam penanganan darurat maupun pengajuan bantuan jangka panjang, agar kerugian petani dapat diminimalkan dan sistem irigasi di Mowewe kembali berfungsi optimal.**










