Beranda / Uncategorized / Infrastruktur Ambruk, Pemkab Muna Barat Dituding Abai! Jalan Wulanga Jaya–Suka Damai Jadi Simbol Pembiaran

Infrastruktur Ambruk, Pemkab Muna Barat Dituding Abai! Jalan Wulanga Jaya–Suka Damai Jadi Simbol Pembiaran

Wulanga Jaya, Muna Barat — Kondisi infrastruktur di Kabupaten Muna Barat kembali menuai sorotan keras. Jalan penghubung Desa Wulanga Jaya hingga Desa Suka Damai kini berada di titik paling memprihatinkan—hancur, berlubang, dan nyaris tak layak disebut sebagai akses publik. Situasi ini memicu kemarahan mahasiswa, yang menilai pemerintah daerah gagal menjalankan tanggung jawab dasar.

Gede Sukrada, mahasiswa asal Muna Barat, secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah kabupaten. Ia menyebut kerusakan jalan tersebut bukan lagi sekadar kelalaian administratif, melainkan bentuk nyata pembiaran sistematis terhadap penderitaan masyarakat.

“Ini bukan rusak biasa—ini kehancuran yang dibiarkan! Pemerintah seperti tidak punya mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar. Rakyat dipaksa bertaruh nyawa setiap hari,” tegasnya.

Di lapangan, kondisi jalan memperlihatkan wajah buram tata kelola infrastruktur. Aspal mengelupas tanpa sisa, lubang besar menganga di berbagai titik, dan badan jalan tak lagi rata. Warga harus berjibaku dengan debu tebal saat kemarau dan kubangan lumpur licin saat hujan. Aktivitas sehari-hari—dari anak sekolah hingga akses layanan kesehatan—terganggu serius.

Yang lebih memantik kemarahan, kerusakan ini bukan terjadi kemarin sore. Kondisi tersebut telah berlangsung lama tanpa intervensi nyata yang signifikan dari pemerintah daerah. Tambal sulam sporadis dinilai hanya menjadi “kosmetik proyek” tanpa solusi jangka panjang.

Gede juga menyinggung keras arah kebijakan pemerintah yang dinilai lebih sibuk membangun citra ketimbang menyelesaikan persoalan mendasar masyarakat.

“Jangan sibuk pencitraan kalau jalan saja tak mampu diurus! Ini akses vital, bukan proyek sampingan. Kalau ini saja gagal, publik berhak mempertanyakan kerja pemerintah,” katanya lantang.

Mahasiswa kini mendesak perbaikan total, transparansi anggaran infrastruktur, serta kejelasan prioritas pembangunan. Mereka menilai ada ketimpangan antara alokasi anggaran dan realisasi di lapangan yang tidak bisa lagi ditutup-tutupi.

Jika tuntutan tersebut terus diabaikan, gelombang protes dipastikan akan membesar. “Kalau pemerintah tetap bungkam, kami pastikan akan turun ke jalan. Ini bukan ancaman, ini peringatan,” tutup Gede dengan nada tegas./FI

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *