JAKARTA MEDIASEKAWAN.COM –16 Mei 2026 Sebuah perubahan fundamental dalam dunia pendidikan tinggi keteknikan di Indonesia resmi diberlakukan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) secara bertahap menghapus istilah “Teknik” dari nama program studi dan menggantinya dengan “Rekayasa”.
Langkah ini bukanlah sekadar permainan kata. Menurut siaran resmi kementerian, perubahan nomenklatur tersebut membawa semangat baru: memperkuat identitas keilmuan, menjawab percepatan teknologi global, sekaligus membuat lulusan Indonesia lebih kompetitif di pasar kerja internasional.
“Rekayasa menggambarkan semangat inovasi, penerapan ilmu, dan solusi atas tantangan masa depan. Ini bukan ganti label, tapi lompatan cara pandang,” demikian pernyataan resmi yang diterima redaksi.
Belasan Prodi Berubah, Ini Daftar Lengkapnya
Setidaknya terdapat 15 program studi yang mengalami perubahan nama. Beberapa di antaranya adalah Teknik Sipil yang kini resmi menjadi Rekayasa Sipil, Teknik Mesin menjadi Rekayasa Mesin, Teknik Elektro menjadi Rekayasa Elektro, dan Teknik Kimia menjadi Rekayasa Kimia.
Perubahan serupa juga berlaku pada Teknik Industri menjadi Rekayasa Industri, Teknik Informatika menjadi Rekayasa Informatika, serta Teknik Lingkungan menjadi Rekayasa Lingkungan. Untuk bidang spesifik, Teknik Perkapalan berubah menjadi Rekayasa Perkapalan, Teknik Dirgantara menjadi Rekayasa Dirgantara, dan Teknik Sistem Perkapalan menjadi Rekayasa Sistem Perkapalan.
Selain itu, rilis kementerian juga menyebutkan perubahan pada Teknik Geologi menjadi Rekayasa Geologi, Teknik Geofisika menjadi Rekayasa Geofisika, Teknik Material menjadi Rekayasa Material, Teknik Nuklir menjadi Rekayasa Nuklir, hingga Teknik Biomedis yang kini disebut Rekayasa Biomedis.
Empat Dampak Positif yang Diharapkan
Kemendiktisaintek memproyeksikan kebijakan ini bakal membawa empat manfaat utama. Pertama, memperkuat citra dan identitas keilmuan prodi keteknikan agar lebih khas di mata dunia. Kedua, menyesuaikan dengan standar internasional, mengingat istilah engineering di banyak negara lebih lazim diterjemahkan sebagai rekayasa.
Ketiga, perubahan ini dinilai mampu mendorong inovasi dan pengembangan teknologi, karena kurikulum berbasis rekayasa menekankan pada riset terapan dan pemecahan masalah sistematis. Keempat, yang paling krusial bagi mahasiswa dan orang tua: daya saing lulusan di dunia kerja global diyakini bakal meningkat.
“Lulusan sarjana rekayasa akan lebih mudah disejajarkan dengan Bachelor of Engineering dari negara lain, karena penekanan pada kemampuan merancang solusi, bukan sekadar keterampilan teknis operasional,” demikian penjelasan kementerian.
Mulai Berlaku Bertahap
Meski perubahan ini efektif dimulai secara bertahap, Kemendiktisaintek mengimbau seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk segera menyesuaikan dokumen akademik, sistem penerimaan mahasiswa baru, hingga bahan ajar.
“Mulai dari hari ini, mari bersama menciptakan masa depan melalui rekayasa,” tutup pernyataan resmi kementerian.













