Beranda / Uncategorized / Menyambut Program Swasembada Pangan Nasional, Tokoh Muda Menyoroti Sektor Peternakan Sultra

Menyambut Program Swasembada Pangan Nasional, Tokoh Muda Menyoroti Sektor Peternakan Sultra

KENDARI MEDISEKAWAN.COM – Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPK GMNI Peternakan UHO bersama DPR Provinsi Sulawesi Tenggara yang dipimpin oleh Ketua Komisi ll dan Komisi lV, bersama dengan Instansi terkait, pada Selasa, 12 Mei 2026. Rapat Dengar Pendapat (RDP) tersebut dilakukan sebagai upaya tindak lanjut dari penyampaian aspirasi dari GMNI Cabang Kendari, yang telah dilakukan pada 4 Mei 2026.

Pada Momentum tersebut di hadiri oleh kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulawesi Tenggara, dalam hal ini, Bapak Abdul Rahim Indu.

Ketua DPK GMNI Peternakan UHO, yakni Bung Adin, mengusulkan pembangunan pabrikasi pakan dan Breeding fram di 17 Kabupaten Kota di Sulawesi Tenggara, sebagai solusi jangka panjang swasembada di sektor peternakan. Pasalnya biaya pakan merupakan biaya terbesar yang harus dikeluarkan peternak, khususnya peternak unggas yaitu mencapai 70%, kemudian biaya bibit yang mencapai 15%. Tentunya hal ini yang mesti menjadi atensi Pemerintah Provinsi Sultra, dimana rantai pasok pakan dan bibit di Sulawesi Tenggara masih mengandalkan suplai dari Import.

Melihat potensi sumber bahan baku pakan yang dimiliki Sultra begitu melimpah terutama jagung. Pada tahun 2025, Sultra menargetkan produksi jagung sebanyak 5.500 ton, melalui program penanaman jagung kuartal lll yang sudah dijalankan sejak Agustus 2025 oleh Polda Sultra yang menargetkan 6 ribu hektar lahan potensi. Selain itu, dedak padi juga merupakan komoditas yang potensial di Sulawesi Tenggara, pada tahun 2025, Pemprov Sultra menargetkan produksi beras hingga 1 juta Ton. Berdasarkan data BPS 2025, Produksi gabah kering giling (GKG) Sulawesi Tenggara mencapai 680,82 ribu ton. Dan diestimasi bisa menghasilkan sekitar 75 Ribu Ton dedak padi yang berpotensi diolah sebagai bahan pakan ternak.

Sulawesi Tenggara juga belum sepenuhnya maksimal dalam memproduksi bibit unggas khususnya ayam. Berdasarkan informasi dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pada bulan February 2026, Sulawesi Tenggara baru mulai memproduksi bibit ayam (KUB) yang menargetkan produksi DOC sebanyak 500-1000 ekor perbulan, sementara untuk DOC perunggasan yang lain seperti bibit ayam ras petelur dan ayam Broiler masih mengalami ketergantungan pasokan bibit dari luar Sulawesi Tenggara, beberapa di antaranya berasal dari Surabaya dan Sulawesi Selatan.

Melalui momentum tersebut, Ketua Komisi ll DPR provinsi Sulawesi Tenggara mengapresiasi Inisiatif dari DPC GMNI Cabang Kendari, karena telah memperhatikan kondisi peternakan Sultra, yang masih belum mandiri dalam memproduksi pakan dan bibit ternak unggas. Ketua Komisi ll DPR Provinsi Sulawesi Tenggara juga menerangkan, terkait pembangunan pabrikasi pakan dan Breeding fram belum bisadilakukan di 17 Kabupaten dan Kota.

Pasalnya, bidang Peternakan masih merangkap dalam satu instansi bersama bidang pertanian yang menyebabkan proses penganggaran belum sepenuhnya terfokus pada pembangunan sektor peternakan. Sehingga untuk mendirikan pabrikasi pakan dan Breeding fram di Sultra masih belum bisa diwujudkan.

Ketua Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulawesi Tenggara juga menambahkan, mengenai pembangunan sektor peternakan Sultra akan terus di upayakan dengan melalui kerja-kerja kongkrit dan kordinasi yang masif antara instansi terkait samapi ke skala Balai Penyuluhan Desa.

Sebagai Penutup pembahasan di sektor peternakan, Ketua DPK GMNI Peternakan UHO, Bung Adin, kembali menegaskan bahwa hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) hari ini, harus benar-benar berbuah dalam bentuk kerja nyata instansi terkait sektor peternakan.

DPK GMNI Peternakan UHO, dengan ini telah berkomitmen penuh dalam mendorong pembangunan sektor peternakan dan mengupayakan peternakan menjadi prioritas pembangunan Sulawesi Tenggara.

Memajukan sektor peternakan Sulawesi Tenggara, tentunya membutuhkan komitmen dan konsistensi penuh dari Pemerintah Provinsi melalui kordinasi yang sangat masif antara pemangku kebijakan, instansi terkait, dan juga praktisi peternakan Sultra.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *