Beranda / Uncategorized / Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Belajar Mengolah Sawit Menjadi Sabun Bersama Laboratorium Terpadu Unsultra

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Belajar Mengolah Sawit Menjadi Sabun Bersama Laboratorium Terpadu Unsultra

KENDARI – Edukasi mengenai hilirisasi kelapa sawit dalam rangkaian Workshop UMKM Sawit: Menumbuhkan Ekosistem Bisnis Mahasiswa dari Hilirisasi Turunan Kelapa Sawit tidak berhenti pada ruang diskusi. Setelah memperoleh materi dari berbagai narasumber, ratusan mahasiswa mengikuti sesi praktik pembuatan sabun mandi berbahan dasar turunan kelapa sawit yang difasilitasi oleh Laboratorium Terpadu Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra).

Sesi praktik menjadi salah satu agenda yang paling mendapat perhatian peserta. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada potensi ekonomi komoditas sawit, tetapi juga diajak melihat secara langsung bagaimana bahan baku turunan kelapa sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.

Kegiatan praktik dipandu oleh tim Laboratorium Terpadu Unsultra bersama praktisi UMKM yang telah berpengalaman mengembangkan produk berbasis kelapa sawit. Peserta diperkenalkan mulai dari karakteristik bahan baku, formulasi produk, standar keamanan dalam proses produksi, hingga teknik pencampuran, pencetakan, dan proses curing sabun agar menghasilkan produk yang berkualitas.

Kepala Laboratorium Terpadu Universitas Sulawesi Tenggara menjelaskan bahwa praktik tersebut dirancang sebagai bentuk pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep hilirisasi dari sisi teori, tetapi juga mampu mengidentifikasi peluang usaha yang dapat dikembangkan dari komoditas perkebunan.

“Mahasiswa harus melihat laboratorium bukan hanya sebagai tempat praktikum, tetapi sebagai ruang inovasi. Dari laboratorium inilah ide-ide produk dapat lahir, diuji, kemudian dikembangkan menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi. Sabun yang dipraktikkan hari ini hanyalah salah satu contoh bahwa kelapa sawit memiliki potensi produk turunan yang sangat luas,” ujarnya.

Suasana laboratorium tampak lebih hidup ketika mahasiswa mulai mencoba mencampurkan bahan baku sesuai formulasi yang telah dijelaskan. Dengan menggunakan peralatan laboratorium, peserta secara bergantian melakukan proses pencampuran minyak turunan sawit dengan bahan pendukung hingga membentuk sabun padat. Beberapa peserta terlihat aktif berdiskusi mengenai peluang pengembangan aroma, desain kemasan, hingga strategi pemasaran apabila produk tersebut diproduksi sebagai usaha UMKM.

Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKS), Sabarudin, SE., ME., mengatakan bahwa sesi praktik merupakan bagian penting dari tujuan kegiatan. Menurutnya, edukasi mengenai sawit tidak cukup dilakukan melalui ceramah, tetapi harus disertai pengalaman langsung agar mahasiswa memahami bahwa komoditas perkebunan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

“Kami ingin mahasiswa pulang bukan hanya membawa pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan inspirasi untuk membangun usaha. Ketika mereka melihat sendiri bahwa sawit bisa diolah menjadi sabun, kosmetik, atau produk lainnya, maka cara pandang terhadap komoditas perkebunan akan berubah. Sawit bukan hanya hasil panen, tetapi sumber inovasi dan peluang ekonomi,” kata Sabarudin.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Sulawesi Tenggara, La Oge, S.P., M.P., menilai bahwa praktik pengolahan produk merupakan bentuk nyata sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri. Menurutnya, mahasiswa perlu dibiasakan dengan pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kewirausahaan.

“Perguruan tinggi harus mampu mencetak lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan menghasilkan produk inovatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Melalui praktik seperti ini, mahasiswa belajar bahwa hasil penelitian dan teknologi dapat diterapkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru,” ujarnya.

Kegiatan praktik tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa hilirisasi kelapa sawit tidak selalu membutuhkan investasi berskala besar. Produk sederhana seperti sabun mandi dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya usaha mikro yang dikelola oleh mahasiswa, koperasi, maupun masyarakat desa. Dengan dukungan inovasi, legalitas produk, dan strategi pemasaran yang tepat, produk berbasis sawit memiliki peluang untuk berkembang di pasar lokal maupun nasional.

Workshop yang digagas SPKS bersama BPDP dan Universitas Sulawesi Tenggara itu memang dirancang tidak hanya sebagai forum berbagi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang menghubungkan akademisi, petani, pemerintah, dan pelaku usaha. Melalui sesi praktik ini, peserta diajak memahami bahwa nilai tambah komoditas perkebunan lahir dari kemampuan mengolah sumber daya menjadi produk inovatif yang mampu menjawab kebutuhan pasar.

Sebagai tindak lanjut, SPKS bersama Universitas Sulawesi Tenggara berkomitmen memperluas kegiatan serupa melalui pelatihan lanjutan, pendampingan UMKM, serta pengembangan inkubasi bisnis mahasiswa berbasis produk turunan kelapa sawit. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami pentingnya sektor perkebunan bagi perekonomian nasional, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan membangun usaha yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Melalui praktik sederhana di laboratorium itu, pesan utama kegiatan menjadi semakin jelas: hilirisasi kelapa sawit tidak dimulai dari pabrik-pabrik besar, tetapi dari pengetahuan, keterampilan, dan keberanian generasi muda untuk mengubah potensi komoditas perkebunan menjadi produk yang bernilai tambah dan berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *