Kendari, 28 November 2025 — Puluhan guru SMA Muhammadiyah se-Sulawesi Tenggara mengikuti kegiatan pelatihan pembelajaran koding tanpa komputer yang berlangsung meriah di Swiss-Belhotel Kendari. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat kompetensi digital pendidik di tengah tuntutan pendidikan abad 21.
Pelatihan ini mengusung konsep unplugged coding, yakni pembelajaran dasar-dasar pemrograman melalui aktivitas fisik dan permainan edukatif tanpa menggunakan perangkat teknologi. Metode ini dirancang agar mudah diterapkan di sekolah, termasuk yang memiliki keterbatasan sarana teknologi.
Kegiatan yang berlangsung di Ruangan Kelas C Swiss-Belhotel Kendari ini diikuti oleh guru-guru perwakilan SMA Muhammadiyah dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara. Sejak awal, suasana belajar tampak hangat dan penuh antusiasme.
Pelatihan dipandu langsung oleh fasilitator utama, Nasrul Harahap, S.Pd.I., M.Pd., yang dikenal aktif dalam pengembangan pembelajaran inovatif berbasis logika dan teknologi. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa pembelajaran koding tidak harus selalu menggunakan komputer.
Menurutnya, pemahaman dasar logika pemrograman justru lebih efektif dikenalkan melalui pendekatan bermain dan bergerak, sehingga peserta didik dapat memahami konsep algoritma, urutan, dan pola pikir terstruktur secara alami.
Dalam pelaksanaan kegiatan, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja untuk mengikuti sesi praktik. Setiap kelompok diberikan tugas simulasi pembelajaran koding berbasis permainan yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis dan sistematis.
Diskusi antar peserta berlangsung aktif. Mereka saling bertukar pengalaman terkait metode pembelajaran di sekolah masing-masing serta berdiskusi tentang bagaimana teknik koding tanpa komputer ini bisa diterapkan di kelas dengan berbagai kondisi siswa.
Suasana pelatihan semakin hidup ketika sesi simulasi dimulai. Peserta terlibat langsung dalam permainan edukatif yang menstimulasi kemampuan berpikir algoritmik, komunikasi tim, serta kreativitas dalam menyelesaikan tantangan.
Interaksi yang terbangun antara fasilitator dan peserta berlangsung hangat dan komunikatif. Tidak hanya menjelaskan teori, fasilitator juga memberi ruang bagi peserta untuk bertanya, berdiskusi, dan mencoba langsung setiap metode yang diperkenalkan.
Kegiatan ini dinilai sebagai langkah strategis dalam membekali guru menghadapi tantangan dunia pendidikan yang semakin digital. Pembelajaran koding menjadi jembatan penting untuk menanamkan keterampilan berpikir logis, kritis, dan problem solving kepada siswa.
Para peserta menyambut positif kegiatan ini. Mereka berharap program serupa dapat terus berlanjut secara berkesinambungan agar kemampuan guru dalam literasi digital semakin meningkat dan merata di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Dengan terlaksananya pelatihan ini, diharapkan guru-guru SMA Muhammadiyah se-Sulawesi Tenggara semakin siap mengimplementasikan pembelajaran berbasis koding di sekolah masing-masing, demi menciptakan generasi yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi era transformasi digital.( LC )










