Beranda / Hukum/Kriminal / Tawuran Berdarah Pelajar Kembali Pecah, Senjata Tajam Beredar Bebas di Jalanan Kendari

Tawuran Berdarah Pelajar Kembali Pecah, Senjata Tajam Beredar Bebas di Jalanan Kendari

KENDARI – Fenomena kekerasan pelajar kembali mencoreng dunia pendidikan. Puluhan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) terlibat tawuran berdarah menggunakan senjata tajam di Jalan H. Banawula Sin Apoy, Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (16/1/2026) dini hari sekitar pukul 00.30 Wita.

Ironisnya, bentrokan tersebut tidak hanya melibatkan pelajar, tetapi juga menyeret orang dewasa yang diduga merupakan senior dari masing-masing kelompok. Aksi brutal ini menyebabkan satu orang menjadi korban penganiayaan setelah terkena sabetan parang di bagian kaki.

Komandan Tim Patroli Perintis Presisi Direktorat Samapta Polda Sultra, Bripka Boy Sagita, mengungkapkan bahwa tawuran bermula dari laporan warga yang resah melihat kerumunan pelajar di tengah malam.

“Warga melapor ada kumpulan anak-anak yang dicurigai hendak tawuran. Tidak lama kemudian, laporan susulan masuk bahwa sudah ada korban penganiayaan akibat senjata tajam,” ujar Bripka Boy saat dikonfirmasi, Jumat siang.

Ketika polisi tiba di lokasi, para pelaku langsung melarikan diri. Dari pengejaran yang dilakukan, aparat hanya berhasil mengamankan dua orang dari sekitar 30 pelaku yang terlibat.

“Dua orang kami amankan di wilayah Kelurahan Abeli, masing-masing berinisial A (20) dan MF (18). Sisanya melarikan diri,” katanya.

Polisi juga menyita empat senjata tajam berupa tiga bilah parang dan satu pisau yang diduga digunakan dalam aksi tawuran tersebut. Senjata-senjata itu ditemukan setelah dibuang pelaku saat berupaya menghindari kejaran petugas.

Hasil pemeriksaan sementara mengungkap fakta yang lebih memprihatinkan. Tawuran tersebut bukan sekadar konflik spontan antarpelajar, melainkan sudah melibatkan orang-orang dewasa yang seharusnya menjadi teladan.

“Awalnya konflik antarsekolah, tapi sudah melibatkan senior-seniornya. Ini yang membuat situasi semakin brutal,” ungkap Bripka Boy.

Peristiwa ini kembali menimbulkan pertanyaan besar soal lemahnya pengawasan lingkungan, peran sekolah, serta orang tua terhadap aktivitas anak-anak di luar jam belajar. Di tengah malam, puluhan pelajar masih bebas berkeliaran sambil membawa senjata tajam, seolah hukum dan pengawasan sosial tak lagi berfungsi.

Saat ini, kedua pelaku telah diamankan di Mapolsek Abeli untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi menyatakan masih memburu pelaku lain dan mendalami kemungkinan adanya provokator yang menggerakkan aksi tawuran tersebut.

Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan pelajar di Indonesia yang belum juga menemukan solusi komprehensif. Aparat penegak hukum, institusi pendidikan, hingga pemerintah daerah didesak untuk tidak sekadar reaktif, tetapi menghadirkan langkah pencegahan nyata sebelum korban berikutnya kembali berjatuhan.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *