Direktur Travelina Indonesia, Wisyaditama, menegaskan bahwa pihaknya tidak bertanggung jawab atas operasional keberangkatan jemaah yang belakangan menjadi sorotan. Ia menyatakan, peran Travelina Indonesia sebatas membantu aspek administratif, bukan pelaksana teknis di lapangan.
Menurut Wisyaditama, keterlibatan perusahaannya terjadi karena permintaan bantuan dari Kahfi (KI), yang sebelumnya disebut sebagai owner Travelina Indonesia. Kahfi disebut diajak oleh Saharuddin Ashar untuk menjalankan operasional travel bernama Halisa Tour & Travel Umrah di Kota Kendari.
Masalah muncul karena Halisa Tour & Travel Umrah belum mengantongi izin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Untuk dapat memberangkatkan jemaah, mereka membutuhkan akses Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh) guna penerbitan ID card dan asuransi jemaah.
“Karena Travelina memiliki izin PPIU resmi, mereka meminta tolong untuk mengeluarkan Siskopatuh agar jemaah bisa berangkat. Saya membantu semata-mata karena mengenal Kahfi sebagai teman, tanpa ada motif menjual dokumen tersebut,” ujar Wisyaditama.
Ia mengakui, atribut jemaah seperti syal dan ID card memang mencantumkan nama Travelina Indonesia. Hal itu, kata dia, karena dokumen Siskopatuh yang digunakan merupakan milik Travelina Indonesia.
“Namun di Dinas Koperasi tertulis Khayani, sedangkan di kantor yang berlokasi di Jalan Sao-Sao BTN 1 tertulis Halisa Tour & Travel Umrah,” jelasnya.
Tiga Kali Gunakan Dokumen
Berdasarkan data internal, Halisa Tour & Travel Umrah tercatat telah tiga kali menggunakan dokumen milik Travelina Indonesia untuk memberangkatkan jemaah, yakni pada November 2025, Januari 2026, dan Februari 2026.
Meski membantu proses input data ke sistem, Wisyaditama menegaskan Travelina Indonesia tidak terlibat dalam penyusunan program perjalanan, pengurusan visa, maupun pengelolaan biaya.
“Admin kami hanya membantu menginput data yang dikirim oleh Kahfi. Terkait program perjalanan, pengurusan visa, hingga perhitungan biaya, semuanya dikelola penuh oleh Kahfi. Kami sama sekali tidak ikut campur dalam operasional,” tegasnya.
Bantah Terima Dana Jemaah
Terkait aliran dana, Wisyaditama memastikan tidak ada satu rupiah pun dana jemaah yang masuk ke rekening Travelina Indonesia. Seluruh pembayaran, kata dia, dilakukan langsung oleh jemaah ke rekening pribadi Kahfi.
“Kami tidak tahu-menahu soal dana. Tidak ada uang yang masuk ke saya atau perusahaan. Ini benar-benar murni saya bantu,” katanya.
Ia juga membantah adanya kantor cabang resmi Travelina Indonesia di Kendari. Meski sempat ada pembahasan pembukaan agen atau cabang, hingga kini belum ada kontrak atau kesepakatan yang ditandatangani.
“Draf kontrak sudah saya kirim, tetapi sampai sekarang tidak ada tanggapan atau tanda tangan kontrak apa pun,” ungkapnya.
Wisyaditama mengaku merasa kecolongan. Niat membantu rekan justru menyeret nama baik perusahaan ke dalam persoalan hukum.
“Kami sangat dirugikan secara reputasi. Ini menjadi pelajaran penting agar lebih berhati-hati ke depan,” pungkasnya.














