Beranda / Sosial / Keluar dari Bayang-Bayang Elite: Dialog Publik HMPS Ilmu Politik UHO Serukan Pemuda sebagai Pengawal Demokrasi”

Keluar dari Bayang-Bayang Elite: Dialog Publik HMPS Ilmu Politik UHO Serukan Pemuda sebagai Pengawal Demokrasi”

Kendari, Mediasekawan.com 1 November 2026 – Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik (HMPS) Fisip UHO menggelar bazar dan dialog. Tema yang di angkat bertakjuk tentang Pemuda Sebagai Arah Penentu Demokrasi Bukan Hanya Menjadi Penonton Kontestasi Politik.
‎
‎Dialog tersebut menghadirkan pembicara/narasumber Mantan Ketua DPC GMNI Kendari, Rasmin Jaya, S.Sos, M.Ap dan Kaprodi Ilmu Politik bapak Dr. H. Muhammad Nasir, S.Sos., M.Si. di salah satu warung kopi yang ada di Kota Kendari pada 1 November 2026.
‎
‎Dalam proses pembukaan, mahasiswa ilmu politik mempersembahkan silat Muna sebagai bentuk mengangkat kembali kebudayaan lokal di ruang-ruang publik.
‎
‎Dalam pemaparannya narasumber, Kaprodi Ilmu Politik bapak Dr. H. Muhammad Nasir, S.Sos., M.Si. menggambarkan hakikat, esensi politik secara kontekstual dari masa klasik hingga moderen di abad 21.
‎
‎”Pemuda memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan bangsa melalui gagasan, sikap kritis, partisipasi, dan keberanian menyuarakan kebenaran,”Katanya.
‎
‎Banyak pemuda Indonesia yang telah menjadi pelopor dan menciptakan sejarah untuk mengubah perjalanan bangsa ini hingga kita merdeka di tahun 1945.
‎
‎”Itu semua karena persatuan dan kesatuan pemuda,” Tegasnya.
‎
‎Pemuda adalah kekuatan masa depan bangsa, tetapi masa depan tidak akan berubah jika pemuda hanya memilih untuk diam dan menjadi penonton.
‎
‎Maka harapannya dialog yang di selenggarakan ini bisa terus berkelanjutan dan bisa memberikan dampak yang kongkret untuk perubahan yang berkesinambungan kepada masyarakat.
‎
‎Di saat yang sama, Mantan Ketua DPC GMNI Kendari Rasmin Jaya, S.Sos, M.Ap menyampaikan suatu kehormatan bisa mendengarkan, menyerap ilmu dari beragam perspektif dan pandangan tentang politik dan demokrasi dari masa Klasik hingga Kontemporer.
‎
‎Ia menegaskan, pemuda bukan hanya jadi penonton, tetapi jug harus melek terhadap politik, tidak boleh bersikap apatis terhadap politik.
‎
‎”Kita perlu terlibat dalam pendidikan politik, pengawasan kebijakan, penyampaian aspirasi, dan proses demokrasi. Saya apresiasi dialog yang di selenggarakan oleh mahasiswa ilmu politik yang menandakan suatu kegelisahan dalam melihat dinamika politik dan demokrasi saat ini,” Bebernya.
‎
‎Tak hanya itu, kontestasi politik, pemilu dan perebutan kekuasaan bukan sekadar ajang persaingan para elite, tetapi momentum bagi masyarakat, khususnya pemuda, untuk memastikan bahwa kekuasaan dijalankan demi kepentingan rakyat.
‎
‎”Demokrasi yang sehat membutuhkan pemuda yang berani bersuara, cerdas menentukan pilihan, dan konsisten mengawal kekuasaan,” Tegasnya.
‎
‎Dalam setiap kontestasi politik, kita sering melihat bagaimana pemuda dijadikan sasaran kampanye, pengerahan massa, bahkan kepentingan politik praktis.
‎
‎”Maka sudah saatnya pemuda mengambil peran lebih besar. Bukan sekadar hadir ketika pemilu, bukan sekadar bersorak mendukung kandidat, melainkan berani mengkritisi gagasan, menilai rekam jejak, mengawal kebijakan, dan memastikan demokrasi tetap berpihak kepada rakyat,” Harapanya.
‎
‎Namun demikian, hal tersebut juga perlu di topang dengan penguatan literasi dan melek politik agar mampu membedah setiap pergolakan yang ada.
‎
‎Sehingga kita maknai politik dan demokrasi bukan hanya momentum lima tahunan namun setiap saat dan waktu kehidupan kita selalu di pengaruhi oleh politik, produk kebijakan dan kekuasaan.
‎
‎Sebagai penegasan pemuda jangan hanya menjadi angka dalam daftar pemilih, jangan hanya menjadi massa dalam panggung kampanye, dan jangan hanya menjadi penonton ketika kekuasaan diperebutkan.
‎
‎Pemuda harus menjadi kekuatan yang menentukan arah, mengawal proses, dan memastikan bahwa demokrasi tidak sekadar melahirkan penguasa, tetapi juga menghadirkan keadilan bagi rakyat.
‎
‎”Semoga kita semua tetap melek terhadap politik dan demokrasi dalam melihat sirkulasi kekuasaan dan tetap menjadi benteng pertahanan dalam menjalankan kontrol pemerintahan dan kepemimpinan,” Tegasnya di akhir pernyataannya.
‎
‎Terlihat bagaimana mahasiswa ilmu politik dan tamu undangan sangat antusias menyambut setiap untaian narasi dan memberikan respon balik terhadap penyampaian narasumber.
‎
‎Redaksi : Mediasekawan

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *