Beranda / Daerah / Krisis Air Cekik Petani Bombana! Andhy Ardian Peringatkan Pemerintah: Jangan Tunggu Gagal Panen Massal

Krisis Air Cekik Petani Bombana! Andhy Ardian Peringatkan Pemerintah: Jangan Tunggu Gagal Panen Massal

BOMBANA, MEDIASEKAWAN.COM – Awal tahun 2026 menjadi alarm keras bagi sektor pertanian di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Musim panca robah yang tak menentu—curah hujan minim disertai angin kencang—membuat ribuan hektare lahan pertanian mengalami kekeringan.

Meski pada Februari sempat turun hujan lebat, durasinya singkat dan tak cukup mengisi cadangan air tanah. Hujan berikutnya justru datang dengan jeda berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tanaman yang seharusnya tumbuh menuju masa panen kini terancam layu sebelum berkembang.

Lahan luas yang membutuhkan suplai air besar kini tak memiliki sumber pengairan memadai. Petani kebun kering dan wilayah pegunungan pun menghadapi situasi serupa—air hujan tak cukup, sementara pompa dan sumber air alternatif terbatas.

Melihat kondisi tersebut, Satgas Tani Merdeka Indonesia Sulawesi Tenggara yang merupakan bentukan Presiden Prabowo Subianto bergerak cepat. Ketua Satgas Tani Merdeka Indonesia Sultra, Andhy Ardian, dengan nada tegas meminta seluruh petani untuk aktif melaporkan kondisi riil di lapangan.

“Laporkan terus apa yang menjadi hambatan pasukan di lapangan. Tugas Tani Merdeka menjadi mata dan telinga Bapak Presiden terhadap apa yang dialami petani. Nanti saya akan menyampaikan dan berbicara kepada pemerintah agar didengar keluhan kita di daerah,” tegas Andhy, Selasa (24/2/2026).

Ia menekankan, saat ini tidak lagi tersedia pos dana bantuan petani yang melekat pada APBD. Karena itu, seluruh persoalan harus dikawal serius hingga ke pemerintah pusat agar tidak terjadi pembiaran.

Lahan CSR 200 Hektare Terancam Kering

Keluhan paling mendesak datang dari Sudirman, anggota Tani Merdeka asal Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara. Ia mengungkapkan lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) seluas kurang lebih 200 hektare di Desa Wumbubangka dan Kelurahan Aneka Marga kini kesulitan air.

Padahal, lahan tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah daerah dan pusat untuk meningkatkan produksi pangan. Namun tanpa sumber pengairan yang memadai, lahan itu terancam gagal produktif.

“Yang sangat-sangat vital dibutuhkan petani Bombana, khususnya Rarowatu Utara, lahan CSR itu hanya air,” ujarnya.

Ia mengusulkan agar pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian segera menghadirkan solusi berupa sumur bor skala besar di beberapa titik lahan CSR.

Petani Ladoa Morini Belum Bisa Turun Sawah

Di Desa Lantawonua, Kecamatan Rumbia, kondisi serupa terjadi. Jasdar, petani setempat, mengungkapkan debit air dari hulu sungai di hamparan Ladoa Morini sangat kecil sehingga tidak mampu menjangkau lahan yang jauh dari sumber air.

Akibatnya, kelompok tani di wilayah tersebut belum bisa memulai masa tanam.

“Sumur bor saja yang perlu sama kita. Tapi yang berskala besar sampai kedalaman 100 meter menggunakan mesin tenaga surya,” kata Jasdar.

Permintaan itu muncul karena ketergantungan pada hujan kini semakin berisiko di tengah perubahan pola cuaca.

Bendungan Langkowala Tak Optimal

Persoalan lain mencuat dari Bendungan Langkowala di Desa Watu-watu, Kecamatan Lantari Jaya. Bendungan yang sebelumnya dikerjakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara disebut kini dipenuhi lumpur dan tidak lagi optimal menampung air.

Andhy Ardian meminta Pemprov Sultra segera turun langsung melakukan peninjauan lapangan dan normalisasi bendungan.

“Kalau perlu, pemerintah pusat membangun bendungan baru di Bombana. Karena keluhan utama petani sekarang jelas: bendungan, saluran irigasi, sumur bor, dan mesin pompa air,” tegasnya.

Target Produksi Tinggi, Infrastruktur Minim

Di tengah krisis air, Bulog Bombana disebut tengah menyerap pembelian hingga 1 juta ton jagung. Namun target besar produksi dinilai tidak sejalan dengan kesiapan infrastruktur pertanian.

Petani dituntut meningkatkan Indeks Pertanaman (IP), sementara sarana pengairan dan alat pertanian masih terbatas.

Satgas Tani Merdeka Indonesia Sultra memastikan akan terus mengawal dan membawa seluruh aspirasi petani Bombana hingga ke tingkat pusat.

“Jangan tunggu gagal panen massal baru bergerak. Air adalah nyawa pertanian. Kalau ingin pangan kuat, infrastruktur air harus jadi prioritas,” pungkas Andhy Ardian.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *