Kolaka – Gelombang protes mahasiswa yang mengatasnamakan Forum Investigasi Mahasiswa Sulawesi Tenggara (FIM Sultra) di kawasan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Pomalaa, Selasa (5/5/2026), berubah tegang. Aksi yang semula menjadi saluran tuntutan hak karyawan justru berujung pada dugaan intimidasi oleh oknum tak dikenal.
Demonstrasi ini dipicu oleh dugaan pelanggaran serius terhadap hak-hak pekerja yang disebut melibatkan mitra perusahaan, PT Kartika Cipta Indonesia. Isu yang diangkat bukan perkara sepele—mulai dari pengenaan PPh 23 terhadap karyawan, pemotongan Tunjangan Hari Raya (THR), hingga dugaan pemangkasan kompensasi/DPLK tanpa transparansi mekanisme maupun dasar hukum yang jelas.
Penanggung jawab aksi, Andi Rifal, menegaskan bahwa unjuk rasa tersebut merupakan akumulasi kemarahan atas praktik yang dinilai tidak adil dan cenderung sistematis.
“Ini bukan sekadar keluhan, tapi indikasi kuat adanya praktik yang merugikan pekerja secara terstruktur. Kami melihat ada pembiaran, bahkan kegagalan pengawasan,” tegasnya.
Pihak perusahaan sempat membuka ruang audiensi sebagai respons. Namun, situasi berubah drastis. Ketegangan memuncak saat dialog bergeser ke kantor PT Kartika Cipta Indonesia. Di titik inilah, FIM Sultra mengaku menghadapi tekanan serius.
“Kami mendapat intimidasi verbal, perlakuan kasar, bahkan upaya pengusiran paksa dari orang-orang yang tidak memiliki legitimasi dalam forum resmi. Ini bukan lagi dialog, tapi upaya pembungkaman,” ungkap Andi.
Insiden tersebut memunculkan dugaan adanya pihak-pihak tertentu yang berusaha meredam isu agar tidak mencuat ke publik. Bagi FIM Sultra, ini adalah alarm keras bagi demokrasi dan kebebasan berpendapat.
“Jika intimidasi dibiarkan, ini jadi preseden buruk. Ruang audiensi seharusnya menjunjung transparansi, bukan diwarnai tekanan gelap,” lanjutnya.
FIM Sultra pun menyatakan sikap tegas:
Mengecam segala bentuk premanisme dan intimidasi dalam ruang demokrasi
Mendesak PT Antam bertanggung jawab atas situasi di lingkup mitra kerjanya
Menuntut PT Kartika Cipta Indonesia memenuhi seluruh hak karyawan
Meminta aparat penegak hukum segera mengusut dugaan intimidasi
Mendorong audit menyeluruh terhadap praktik ketenagakerjaan
Mengancam akan meningkatkan eskalasi aksi jika tuntutan diabaikan
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan.
Aksi ini bukan sekadar protes—ia menjadi cermin retaknya perlindungan buruh, sekaligus ujian bagi komitmen perusahaan dan negara dalam menjamin keadilan di dunia kerja./DN.














