Konawe Kepulauan, Mediasekawan.com 12 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Membangun Desa (KKN-MD) Universitas Halu Oleo (UHO) di Desa Roko-Roko, Kecamatan Wawonii Tenggara, menginisiasi program pengolahan limbah peternakan dan pertanian menjadi produk bernilai ekonomi. Mereka mengubah kotoran sapi menjadi pupuk organik dan tempurung kelapa menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif. Langkah ini diharapkan menjadi solusi berbasis sumber daya lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus melestarikan lingkungan.
Kegiatan berawal dari observasi lapangan yang dilakukan mahasiswa untuk memetakan potensi limbah di desa tersebut. Dari pengamatan langsung di peternakan sapi dan diskusi dengan warga, ditemukan fakta bahwa selama ini kotoran sapi dan tempurung kelapa hanya dibuang atau dibakar tanpa pemanfaatan berarti. Padahal, kedua bahan tersebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pelatihan Pembuatan Pupuk dan Briket
Berbekal hasil identifikasi, mahasiswa pun menggelar sosialisasi dan pelatihan kepada warga. Proses pembuatan pupuk organik diajarkan secara bertahap, mulai dari pencampuran bahan, fermentasi, hingga menghasilkan pupuk siap pakai untuk lahan pertanian.
Sementara itu, pelatihan pembuatan briket dilakukan dengan prosedur yang lebih detail dan sistematis untuk memastikan kualitas produk. Tahapannya dimulai dari pembakaran tempurung kelapa di dalam drum hingga menjadi arang. Arang kemudian didinginkan terlebih dahulu untuk keamanan, lalu dihaluskan dan diayak agar didapatkan serbuk berukuran seragam. Selanjutnya, mahasiswa mengajarkan cara membuat perekat dari tepung kanji yang dicampur air panas hingga mengental. Pasta kanji tersebut kemudian dicampur dengan serbuk arang, ditambahkan air secukupnya sambil diaduk hingga adonan padat dan lembap. Adonan lalu dicetak menyerupai dadu dan dikeringkan di bawah sinar matahari hingga mengeras. Setelah kering, briket siap dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga maupun dijual.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Mahasiswa KKN turut menjelaskan berbagai manfaat dari kedua produk tersebut. Pupuk organik kotoran sapi dinilai mampu meningkatkan kandungan bahan organik tanah, memperbaiki struktur lahan, hingga mengaktivasi mikroorganisme yang menjaga kesuburan tanah secara jangka panjang. Sementara itu, briket dari tempurung kelapa menawarkan keunggulan sebagai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, memiliki daya bakar lama, dan menghasilkan panas yang stabil. Tak hanya itu, produk ini juga berpotensi menjadi komoditas bernilai jual bagi masyarakat.
Harapan Keberlanjutan
Koordinator Kecamatan KKN-MD UHO di Wawonii Tenggara menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk mengubah pola pikir masyarakat terhadap potensi limbah. “Kami ingin menunjukkan bahwa limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan sebenarnya memiliki nilai ekonomi tinggi. Kotoran sapi bisa menjadi pupuk untuk mendukung produktivitas pertanian, dan tempurung kelapa bisa menjadi briket yang ramah lingkungan. Kami berharap masyarakat bisa menerapkan pengetahuan ini secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pemanfaatan limbah ini disebut sebagai langkah sederhana namun berdampak besar, seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta menambah nilai ekonomi dari limbah pertanian.
Melalui program ini, mahasiswa KKN-MD UHO berharap tercipta kolaborasi erat antara pemerintah desa, kelompok tani, peternak, dan perguruan tinggi untuk menciptakan Desa Roko-Roko yang lebih bersih, sejahtera, dan berdaya saing melalui pertanian berkelanjutan di Kabupaten Konawe Kepulauan.
Redaksi : Mediasekawan













