Kendari, Mediasekawan.com 28 Oktober 2026 — Muhamad Iqbal, Mantan Sekretaris HMI Cabang Kendari, menilai Ridwan Badallah terlalu berlebihan dalam merespons pernyataan Ridwan Bae. Alih-alih menjawab substansi kritik dengan argumentasi dan gagasan pembangunan, Ridwan Badallah justru terkesan larut dalam polemik personal yang tidak memberikan manfaat apa pun bagi masyarakat Sulawesi Tenggara. Sikap semacam ini menunjukkan komunikasi politik yang tidak produktif dan justru berpotensi memperkeruh hubungan antartokoh yang seharusnya dapat bersinergi membangun daerah.
Ridwan Badallah seharusnya memahami bahwa dirinya bukan sekadar berbicara atas nama pribadi, melainkan merupakan bagian dari birokrasi pemerintahan ASR. Karena itu, cara ia merespons kritik turut membentuk persepsi publik terhadap kepemimpinan Gubernur Andi Sumangerukka. Jika pejabat di lingkaran gubernur justru sibuk memperpanjang perdebatan dan menanggapi kritik secara berlebihan, wajar apabila publik mempertanyakan kualitas komunikasi pemerintahan yang sedang dibangun.
Gubernur ASR seharusnya tidak membiarkan pembantunya mengambil peran sebagai juru bicara informal yang menyerupai kanal gosip politik. Pejabat pemerintah semestinya menjadi penyampai informasi yang berbasis data, menjelaskan kebijakan, serta menawarkan solusi, bukan justru menjadi bagian dari kegaduhan politik. Pemerintahan tidak membutuhkan pejabat yang paling lantang membalas kritik, tetapi pejabat yang mampu menerjemahkan kritik menjadi perbaikan kinerja.
kritik bapak Ridwan Bae seharusnya tidak dipersepsikan sebagai ancaman politik terhadap ASR, melainkan sebagai momentum untuk membuka ruang komunikasi dan kerja sama. Orang-orang di lingkaran gubernur semestinya mendorong pertemuan langsung antara ASR dan Ridwan Bae untuk mendiskusikan program strategis yang dapat diperjuangkan bersama demi kemajuan Sulawesi Tenggara. Jauh lebih terhormat dan produktif mempertemukan gagasan daripada mempertontonkan polemik yang tidak berkesudahan.
Terlebih, Ridwan Bae memiliki posisi strategis sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR RI, sementara ASR memegang mandat sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara. Keduanya memiliki peran yang dapat saling melengkapi dalam memperjuangkan pembangunan infrastruktur, konektivitas antarwilayah, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perbedaan pandangan seharusnya tidak menjadi penghalang, melainkan ruang untuk menyatukan kepentingan dan merumuskan prioritas pembangunan daerah.
Gubernur ASR dan Bapak Ridwan Bae sama-sama bisa menempatkan kepentingan masyarakat di atas ego dan dinamika politik. Kolaborasi keduanya akan menjadi kolaborasi epic bagi masa depan Sulawesi Tenggara. Kritik harus dijadikan pintu dialog, perbedaan harus dijembatani, dan kekuatan politik yang dimiliki masing-masing harus diarahkan untuk memperjuangkan program nyata bagi daerah. Sebab, keberhasilan pemimpin tidak diukur dari seberapa kuat lingkarannya membela diri, melainkan dari seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan rakyat.
Muhamad Iqbal
Mantan Sekretaris HMI Cabang Kendari
Redaksi : Mediasekawan










