Kendari, Mediasekawan.com 1 November 2026 – Kerukunan Mahasiswa Buton Indonesia (KMIB) bersama Forum Komunikasi Mahasiswa Baubau Kendari (FORKOM B2K) menggelar kegiatan bertajuk “Tula-Tula Diaspora Buton” dengan mengusung tema “Merawat Kebutonan Melintasi Zaman”, bertempat di Rupa Coffee, Kota Kendari.
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan dan dialog lintas generasi bagi masyarakat diaspora Buton yang berkiprah di berbagai bidang di Kota Kendari. Sejumlah akademisi, dosen, seniman, politisi, serta tokoh dari beragam latar belakang profesi dihadirkan untuk berbagi pengalaman, gagasan, dan pandangan mengenai identitas serta masa depan kebudayaan Buton.
Ketua Panitia Tula-Tula Diaspora Buton, La Ode Asraruddin, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar forum silaturahmi, melainkan upaya membangun kembali kesadaran bersama tentang akar sejarah, nilai budaya, dan ikatan emosional masyarakat Buton di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, diaspora Buton memiliki perjalanan panjang yang tidak hanya dibentuk oleh kesamaan asal-usul geografis, tetapi juga oleh pengalaman sejarah, tradisi, bahasa, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Bagi saya, kebutonan bukan hanya tentang dari mana kita berasal, tetapi tentang apa yang masih kita ingat, nilai apa yang kita jaga, dan bagaimana kita tetap merasa terhubung meskipun hidup di ruang dan lingkungan yang berbeda. Ada memori kolektif yang menyatukan kita, dan itulah yang ingin terus kita rawat,” ujar Asraruddin.
Ia menjelaskan bahwa di tengah mobilitas sosial dan perkembangan zaman, identitas kultural sering kali menghadapi tantangan. Generasi muda dapat tumbuh jauh dari kampung halaman, mengenal banyak kebudayaan baru, namun perlahan kehilangan kedekatan dengan sejarah dan nilai-nilai leluhurnya.
Karena itu, menurut Asraruddin, ruang dialog seperti Tula-Tula Diaspora Buton menjadi penting untuk mempertemukan pengalaman generasi terdahulu dengan cara pandang generasi muda.
“Kita mungkin memiliki profesi, pandangan politik, dan jalan hidup yang berbeda. Ada yang mengabdi di dunia pendidikan, berkarya melalui seni, bergerak dalam politik, maupun berkontribusi di bidang lainnya. Namun, di balik semua perbedaan itu, ada satu rasa yang sama, yakni kebutonan. Rasa inilah yang tidak boleh hilang hanya karena kita dipisahkan oleh ruang, waktu, dan perubahan zaman,” ungkapnya.
Lebih jauh, Asraruddin memandang bahwa merawat identitas Buton tidak berarti membatasi diri pada romantisme masa lalu. Sebaliknya, kebudayaan harus terus dihidupkan melalui gagasan, karya, serta kontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat modern.
“Kita tidak ingin kebutonan hanya berhenti sebagai cerita tentang kejayaan masa lalu. Kita ingin nilai-nilainya tetap hidup, berkembang, dan menemukan relevansinya hari ini. Sebab, merawat kebudayaan bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan bahwa di tengah perubahan itu kita tidak kehilangan jati diri,” jelasnya.
Ia juga berharap pertemuan lintas profesi dan generasi tersebut dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, khususnya dalam memperkuat peran generasi muda Buton di bidang pendidikan, kebudayaan, sosial, dan pembangunan daerah.
“Tula-Tula adalah tentang saling mendengar, saling mengingatkan, dan saling menghubungkan. Kita ingin anak-anak muda Buton mengetahui bahwa mereka memiliki akar sejarah yang kuat, sekaligus tanggung jawab untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik. Memori kolektif itu tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diwariskan dan diterjemahkan menjadi tindakan,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, KMIB dan FORKOM B2K berupaya menghadirkan ruang intelektual sekaligus kultural yang mempertemukan berbagai perspektif dalam satu semangat kebersamaan.
Tula-Tula Diaspora Buton diharapkan menjadi titik awal tumbuhnya percakapan dan kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa, akademisi, seniman, politisi, serta berbagai elemen masyarakat Buton yang berada di perantauan.
Sebab pada akhirnya, merawat kebutonan bukan semata-mata tentang menjaga ingatan akan tanah asal, tetapi juga tentang memastikan nilai, rasa, dan identitas itu tetap hidup melintasi generasi dan zaman.
Redaksi : Mediasekawan









