Beranda / Pemerintahan / Pertumbuhan Infrastruktur Kendari: Sudahkah Seimbang Dengan Pertambahan Penduduk? Oleh : Oskar

Pertumbuhan Infrastruktur Kendari: Sudahkah Seimbang Dengan Pertambahan Penduduk? Oleh : Oskar

Kendari, Mediasekawan.com 8 November 2026 — Kota Kendari terus berkembang sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, dan jasa di Sulawesi Tenggara. Perkembangan kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi membawa peluang bagi kota, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap jalan, air bersih, sanitasi, persampahan, transportasi, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan. Persoalannya bukan sekadar seberapa banyak infrastruktur dibangun, melainkan apakah layanan tersebut mampu mengikuti pertumbuhan penduduk dan menjangkau seluruh warga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kendari menunjukkan jumlah penduduk tahun 2024 sebanyak 366.454 jiwa, lebih tinggi dibandingkan angka 351.085 jiwa pada 2023 yang tercantum dalam tabel BPS. Perbandingan ini perlu dibaca secara hati-hati karena sumber dan seri data kependudukan dapat memiliki perbedaan metodologi. Meski demikian, pertumbuhan penduduk tetap menjadi sinyal bahwa kebutuhan layanan perkotaan terus meningkat. Pertumbuhan tersebut juga tidak merata. Baruga, Poasia, dan Puuwatu termasuk kecamatan dengan laju pertumbuhan relatif tinggi pada periode 2023–2024.

Kondisi ini menuntut perencanaan yang lebih rinci berdasarkan lokasi. Wilayah yang penduduknya bertambah cepat membutuhkan pemeriksaan kapasitas jalan lingkungan, drainase, air minum, sanitasi, pengangkutan sampah, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Jika pembangunan permukiman lebih cepat daripada penyediaan layanan dasar, warga berisiko menghadapi akses yang terbatas dan biaya pelayanan yang semakin besar.

Salah satu gambaran tantangan tersebut terlihat dari kondisi jalan. BPS dalam Statistik Daerah Kota Kendari 2025 mencatat panjang jalan pada 2024 sebesar 433,77 kilometer. Dari jumlah itu, 270,88 kilometer berkondisi baik, 16,97 kilometer sedang, 65,90 kilometer rusak, dan 80,03 kilometer rusak berat. Artinya, sekitar 33,64 persen panjang jalan berada dalam kategori rusak dan rusak berat. Angka ini menunjukkan bahwa pemeliharaan jalan masih menjadi pekerjaan penting, meskipun belum cukup untuk menggambarkan kondisi seluruh infrastruktur kota.

Lalu, apakah pembangunan infrastruktur Kendari sudah seimbang dengan pertambahan penduduk? Jawabannya belum dapat dipastikan hanya dari data yang tersedia. Data penduduk memperlihatkan meningkatnya kebutuhan, sedangkan data jalan menunjukkan masih adanya bagian jaringan yang perlu diperbaiki. Untuk menilai keseimbangan secara menyeluruh, pemerintah perlu membandingkan pertumbuhan penduduk dengan kapasitas, kualitas, dan jangkauan layanan dasar di setiap kecamatan atau kelurahan.

Ada tiga langkah yang perlu menjadi perhatian. Pertama, Pemerintah Kota Kendari perlu menyatukan data kependudukan dan infrastruktur dalam peta kebutuhan wilayah. Pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis dapat membantu menunjukkan kawasan yang tumbuh cepat, fasilitas yang tersedia, serta kelompok warga yang belum terlayani. Baruga, Poasia, dan Puuwatu dapat menjadi wilayah yang diperiksa lebih rinci berdasarkan kondisi lapangan.

Kedua, pembangunan baru harus berjalan seimbang dengan pemeliharaan aset yang sudah ada. Perbaikan jalan dan fasilitas publik mungkin tidak selalu terlihat semenarik proyek baru, tetapi dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Prioritas perbaikan jalan sebaiknya mempertimbangkan tingkat kerusakan, jumlah pengguna, serta akses menuju sekolah, pusat kesehatan, dan kegiatan ekonomi.

Ketiga, pengembangan permukiman perlu diselaraskan dengan rencana tata ruang dan kesiapan infrastruktur dasar. Pemerintah harus memastikan bahwa pertumbuhan kawasan hunian diikuti oleh kapasitas jalan, drainase, air minum, sanitasi, dan persampahan. Warga juga perlu dilibatkan dalam menentukan prioritas melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) dan mekanisme pengaduan yang jelas, terbuka, serta dapat dipantau tindak lanjutnya.

Kendari tidak cukup dinilai sebagai kota yang maju karena semakin banyak proyek atau bangunan baru. Kemajuan harus terlihat dari layanan yang berfungsi, mudah dijangkau, dan merata. Karena itu, evaluasi keseimbangan antara pertumbuhan penduduk dan infrastruktur perlu dilakukan secara berkala, dengan indikator yang terbuka kepada publik. Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang seberapa cepat kota tumbuh, tetapi seberapa baik kota memenuhi kebutuhan warganya.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Program Pascasarjana, Universitas Halu Oleo.

Redaksi : Mediasekawan

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *