KENDARI MEDIASEKAWAN.COM – Hujan deras yang melanda Kendari pada Senin (18/5/2026) justru menjadi panggung perlawanan bagi Gerakan Mahasiswa Peduli Hukum Sultra (GMPH Sultra). Alih-alih bubar, mereka mengerahkan ribuan semangat di depan Kantor Kejaksaan Tinggi Sultra. Aksi ini bukan sekali lagi soal protes lambannya hukum, melainkan kecurigaan publik bahwa ada “proyek perlindungan” bagi aktor intelektual di balik ambruknya nilai-nilai proyek Jembatan Cirauci II.
Sambil membentangkan kain putih bertinta hitam bertuliskan “Tebang Pilih Lawan, Biarkan Rakyat Berdarah”, massa dengan sengaja membakar dua ban bekas di tengah guyuran air hujan. Aksi simbolik itu dimaknai sebagai “panggung darurat” atas matinya keadilan jika penegak hukum masih ragu menyentuh sosok kunci di Kabupaten Bombana.
Koordinator aksi, Vikram, bahkan tak menggunakan jas hujan. Dengan pakaian basah menempel, ia berorasi, “Kami tidak datang untuk berteduh. Kami datang untuk membakar ketidakadilan. Jika Kejati tak berani menetapkan Bupati Bombana sebagai tersangka dalam kasus jembatan yang merugikan rakyat Buton Utara ini, kami akan mengajukan gugatan praperadilan secara massal.”
Berbeda dengan aksi sebelumnya, kali ini mahasiswa membawa amplop cokelat besar yang dibakar satu per satu di depan gerbang kejaksaan—simbol bahwa mereka menolak segala bentuk “pengkerdilan” hukum demi kepentingan kekuasaan. Tuntutan mereka kini lebih sistematis: membuka seluruh dokumen Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK kepada publik, serta memanggil paksa saksi-saksi baru yang berasal dari unsur swasta pemenang tender.
Hingga kabut sore mulai turun, tak satu pun perwakilan Kejati Sultra keluar menemui massa. Hanya spanduk besar di mobil komando yang terus berkibar: “Hujan Akan Reda, Tapi Amarah Kami Hakan Padam Jika Hukum Masih Buta Sebelah Mata.”
LP:Mediasekawan.com














