KENDARI MEDIASEKAWAN.COM — Ada yang berbeda dari silaturahmi antara anggota DPRD Sultra, La Isra, dengan penulis muda Rasmin Jaya baru-baru ini. Bukan sekadar basi-basi atau seremonial. Yang terjadi justru perjumpaan dua generasi yang sama-sama haus perubahan, ditemani tumpukan naskah dan secangkir cerita perjuangan hidup.
Di tengah hiruk-pikuk gedung dewan, La Isra, pria yang kini duduk sebagai Ketua Fraksi Gerindra sekaligus Ketua Komisi I DPRD Sultra, membuka hati. Ia tidak bicara soal agenda politik. Ia bicara tentang masa lalunya: merintis jalan di atas kerikil tajam, berorganisasi di kampus, menjadi aktivis jalanan yang kerap berdemo di depan gedung yang kini ia tempati.
“Saya memulai dari bawah. Dari titik di mana banyak orang meragukan. Tapi saya percaya: pendidikan dan organisasi adalah dua sayap yang mengubah takdir seseorang.”
Buku berjudul Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi karya Rasmin Jaya menjadi pemantik diskusi. La Isra mengaku bangga ada anak muda yang masih percaya pada kekuatan kata-kata di tengah gempuran disrupsi digital. “Mahasiswa wajib berorganisasi. Di sanalah mental, cara pandang, dan keberanian dibentuk. Bukan hanya demi gelar, tapi demi panggilan mengabdi,” tegasnya pada pertemuan di Kendari, 18 Mei 2026.
Rasmin Jaya, penulis buku tersebut, tersenyum. Ia bukan orang asing bagi La Isra. Dulu mereka kerap bertemu di barisan depan aksi demonstrasi di depan DPRD. Kini mereka duduk bersama—satu sebagai wakil rakyat, satu sebagai penulis kritis. “Hubungan kami dekat. Bukan karena jabatan, tapi karena pernah sama-sama berteriak untuk keadilan,” ujar Rasmin.
Tak berhenti di sana. La Isra juga dikenal konsisten membawa isu literasi ke ranah kebijakan. Melalui sosialisasi Perda No. 11/2016 tentang Pengelolaan Perpustakaan, ia mengajak pegiat literasi dari Muna hingga Buton Utara untuk menghidupkan perpustakaan desa. Baginya, perpustakaan bukan gudang buku mati, tapi ruang gerak kemajuan.
“Jika Sultra ingin maju, literasi harus tumbuh dari desa. Bukan sekadar slogan. Ini fondasi.”
Pesan penutup dari Rasmin menggantung di udara: “Kami generasi sekarang harus berani bersaing. Bukan dengan saling menjatuhkan, tapi dengan menciptakan ruang pengabdian baru. Semoga kami bisa bermanfaat untuk daerah, seperti yang La Isra buktikan.”
Pertemuan sederhana itu mengingatkan satu hal: di era yang serba riuh dan instan, masih ada orang-orang yang memilih setia pada proses, buku, dan perjuangan sunyi bernama literasi.













