Konawe Kepulauan, Mediasekawan.com 4 September 2026 — Suasana di Puskesmas Lampeapi, Kecamatan Wawonii Tengah, Kabupaten Konawe Kepulauan, memanas setelah keluarga seorang pasien yang diketahui bernama Cika meluapkan emosinya karena merasa tidak mendapatkan penanganan medis secara cepat ketika kondisi pasien semakin memburuk.
Menurut keterangan keluarga, Cika datang dalam kondisi membutuhkan pertolongan medis segera. Namun, keluarga menyebut terdapat kendala dalam ketersediaan obat di Puskesmas Lampeapi. Obat yang tersedia disebut telah kedaluwarsa sehingga pasien kemudian direncanakan untuk dirujuk ke rumah sakit.
Persoalan kembali muncul ketika proses rujukan disebut belum mendapatkan respons dari pihak Rumah Sakit Konawe Kepulauan. Pihak rumah sakit disebut meminta video kondisi pasien sebagai bahan pertimbangan penerimaan rujukan. Video pasien kemudian telah dikirim sebanyak dua kali, tetapi menurut keluarga, respons belum juga diterima.
Keluarga mengaku harus menunggu lebih dari satu jam sementara kondisi pasien semakin memburuk. Bahkan, pasien disebut beberapa kali kehilangan kesadaran. Situasi tersebut akhirnya membuat keluarga emosi dan terjadi keributan di Puskesmas Lampeapi.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga akhirnya mengambil keputusan untuk membawa pasien secara langsung ke rumah sakit tanpa menunggu kepastian respons rujukan.
Amir Hasbi bapak cika: “Kalau Tidak Ada Obat, Langsung Bawa ke Rumah sakit”
Amir Hasbi, pihak keluarga pasien, mengaku tidak ingin mengambil risiko lebih besar ketika melihat kondisi Cika semakin memburuk.
Menurut Amir, dalam keadaan darurat, keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama. Bagi keluarga, persoalan administratif maupun menunggu respons tidak boleh menyebabkan pasien kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pertolongan.
“Kalau memang tidak ada obat di puskesmas ini, langsung bawa saja ke rumah sakit. Walaupun belum ada respons, saya yang bertanggung jawab. Kalau kemudian rumah sakit menolak pasien, saya juga yang akan bertanggung jawab,” ujar Amir Hasbi ayah dari chika.
Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan keluarga yang berada dalam posisi sulit: di satu sisi mereka membutuhkan fasilitas kesehatan, tetapi di sisi lain mereka merasa waktu terus berjalan sementara kondisi pasien semakin mengkhawatirkan.
Bagi keluarga, kemarahan yang terjadi bukan semata-mata persoalan emosi. Mereka menganggapnya sebagai bentuk kepanikan dan keputusasaan ketika melihat anggota keluarga yang sedang sakit beberapa kali kehilangan kesadaran, sementara pertolongan yang diharapkan belum kunjung didapatkan.
“Yang kami pikirkan saat itu hanya bagaimana pasien bisa segera ditolong. Kalau kondisi pasien semakin parah, siapa yang mau bertanggung jawab?” demikian keresahan keluarga.
Muhamad Zulpiqran: Persoalan Ini Harus Menjadi Evaluasi Serius
Sementara itu, Muhamad Zulpiqran menilai peristiwa tersebut tidak boleh berhenti sebagai persoalan antara keluarga pasien dan tenaga kesehatan. Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan, terutama mengenai ketersediaan obat, masa berlaku obat, serta mekanisme rujukan pasien.
“Ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi Puskesmas Lampeapi. Ketersediaan obat bukan sekadar persoalan ada atau tidak ada, tetapi juga menyangkut kelayakan dan keamanan obat yang diberikan kepada masyarakat. Jangan sampai masyarakat datang untuk mendapatkan pertolongan, tetapi justru dihadapkan pada obat yang sudah kedaluwarsa,” tegas Muhamad Zulpiqran.
Ia juga mempertanyakan apabila persoalan serupa kembali terjadi. Menurutnya, jika benar sebelumnya juga terdapat pasien yang mengalami kendala ketersediaan obat, bahkan terdapat obat yang disebut telah kedaluwarsa, maka persoalan tersebut perlu diperiksa secara sistematis, bukan dianggap sebagai kejadian insidental.
“Kalau persoalan obat tidak tersedia atau ditemukan obat yang kedaluwarsa terjadi berulang, maka ini bukan lagi sekadar persoalan teknis. Ini menyangkut tata kelola pelayanan kesehatan dan hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang aman dan layak,” katanya.
Zulpiqran juga mengkritik mekanisme komunikasi dalam proses rujukan pasien. Ia menilai rumah sakit harus memiliki sistem respons yang cepat dan jelas terhadap pasien yang dirujuk oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Ketika puskesmas memutuskan pasien harus dirujuk, tentu ada alasan medis mengapa pasien tidak dapat ditangani secara optimal di puskesmas. Bisa karena keterbatasan tenaga medis, obat, peralatan, maupun fasilitas. Karena itu, rumah sakit harus memiliki mekanisme respons rujukan yang cepat, bukan membiarkan pasien dan keluarga berada dalam ketidakpastian,” ujar Zulpiqran.
Menurutnya, dalam kondisi pasien yang disebut telah beberapa kali kehilangan kesadaran, setiap menit memiliki arti.
“Pelayanan kesehatan tidak boleh terjebak dalam birokrasi ketika keselamatan pasien sedang dipertaruhkan. Administrasi memang penting, tetapi keselamatan manusia harus ditempatkan sebagai prioritas tertinggi. Jika komunikasi rujukan membutuhkan video atau informasi tambahan, proses tersebut harus dilakukan secara cepat dan tidak boleh membuat pasien terlantar,” tegasnya.
Jangan Tunggu Korban Berikutnya
Zulpiqran berharap kejadian di Puskesmas Lampeapi menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan, Dinas Kesehatan, Puskesmas Lampeapi, dan Rumah Sakit Konawe Kepulauan untuk melakukan evaluasi terbuka terhadap sistem pelayanan kesehatan.
“Yang harus dicari bukan siapa yang harus disalahkan, tetapi di mana letak persoalannya dan bagaimana memastikan hal serupa tidak terulang. Namun evaluasi juga harus konkret. Jangan sampai masyarakat kembali datang dalam kondisi darurat dan menghadapi persoalan yang sama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat di wilayah kepulauan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, cepat, dan bermutu.
“Jangan menunggu ada pasien yang kehilangan nyawa baru semua pihak bergerak. Setiap pasien yang datang ke fasilitas kesehatan membawa harapan untuk diselamatkan. Mereka bukan sekadar nomor antrean dan bukan sekadar berkas rujukan. Di balik setiap pasien ada keluarga yang sedang berjuang mempertahankan orang yang mereka cintai,” pungkas Muhamad Zulpiqran.
Redaksi : Mediasekawan













