Surakarta,Mediasekawan.com Sabtu 5 September 2026 — Langit di atas Keraton Kasunanan Surakarta tampak seakan ikut merunduk penuh hormat pada hari bersejarah ini. Di dalam kompleks Sitihinggil yang dihiasi ukiran seni pusaka leluhur dan diterangi kilau lampu kristal bergaya kerajaan, berlangsunglah upacara adat paling sakral. Hanjangkepi Jumeneng Ndalem, pengukuhan SISKS Pakubuwono XIV Hangabehi sebagai pemimpin adat Keraton Surakarta yang baru. Suasana begitu khidmat, penuh keagungan, seakan alam dan semesta turut menyaksikan penyerahan tongkat estafet kepemimpinan adat yang berjalan penuh kehormatan.
Di tengah deretan tamu agung yang berdatangan dari berbagai penjuru negeri, hadirlah PYM La Ode Riago, SH — Raja Muna. Kehadiran beliau bukan sekadar langkah kaki melintasi ribuan kilometer daratan dan lautan. Ia adalah perjalanan jiwa yang membawa semangat dan penghormatan dari tanah timur, melintasi selat dan ombak, hingga tiba di halaman keraton yang penuh kebesaran ini. Beliau tampak begitu memukau dan menonjol di antara hadirin, mengenakan busana kebesaran yang berpadu harmonis dengan kain tenun khas Masalili berwarna kuning keemasan. Setiap helai anyaman tenun itu bukan sekadar benang yang ditenun tangan, melainkan jalinan cerita, kearifan, dan identitas yang telah dijaga turun-temurun oleh nenek moyang tanah Muna. Warna kuning keemasan yang berkilau lembut seakan memancarkan sinar kemuliaan, kesucian, dan kehormatan — ciri luhur budaya yang lahir dari bumi Sulawesi Tenggara. Keunikan corak dan warnanya menjadikan beliau tampak berbeda, membawa keharuman budaya yang khas, seketika mengingatkan siapa saja yang memandang bahwa dari timur yang jauh, hadir seorang pemimpin yang senantiasa menjaga amanat leluhurnya.
Terabadikan pula momen yang begitu menyentuh hati, jabat tangan erat yang terjalin antara beliau dengan saudaranya sesama pemimpin adat. Kedua tangan yang bersatu itu menyimpan makna sedalam samudera — bahwa meski pulau tempat mereka tinggal dipisahkan oleh lautan luas, hati dan persaudaraan mereka tak pernah terpisahkan. Senyum yang terpancar, genggaman yang tulus, semuanya berbicara tanpa kata, bahwa persaudaraan sesungguhnya tidak dibatasi oleh batas wilayah, melainkan tumbuh dari kesamaan akar, kesamaan asal, dan kesamaan tekad untuk menjaga warisan luhur bangsa.
Pengukuhan hari ini pun menjadi momen yang sangat istimewa, karena dihadiri secara penuh oleh para pemimpin adat dari berbagai penjuru Nusantara yang tergabung dalam Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN). Dari ujung utara hingga ke timur yang terjauh, dari pulau yang besar hingga pulau-pulau kecil yang tersebar di gugusan laut, para Sultan, Raja, dan pemimpin adat hadir berkumpul dalam satu tempat, satu suasana hikmat, dan satu rasa hormat. Sungguh pemandangan yang jarang terlihat namun begitu menyejukkan hati — melihat kerajaan-kerajaan yang dahulu berjauhan, kini berdiri berdampingan, saling menguatkan, saling menghormati, dan bersatu dalam ikatan persaudaraan yang tak akan lekang oleh waktu.
Semua ini menegaskan satu kebenaran yang abadi dan tak pernah pudar, bahwa kerajaan-kerajaan tradisional di Nusantara ini, meski memiliki bahasa, adat, dan corak yang beragam, sesungguhnya bersumber dari satu akar yang sama. Di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita semua tumbuh bagai rantai yang saling mengait, bagai pepohonan yang berdaun rimbun namun bersatu pada akar yang sama. Kehadiran Raja Muna dengan keindahan tenun Masalilinya, jabat tangan persaudaraannya, serta kehadiran seluruh keluarga besar MAKN, menjadi bukti hidup bahwa meski laut memisahkan daratan, namun tak mampu memisahkan hati — persaudaraan sejati tetap abadi, terus dijaga, terus diperkuat, dan terus diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Redaksi : Mediasekawan













