Beranda / Hukum/Kriminal / Berdarah di Lorong Sempit Kendari: Leher Disayat, Tubuh Disiksa—Teror Kekerasan Siang Bolong Mengguncang Warga

Berdarah di Lorong Sempit Kendari: Leher Disayat, Tubuh Disiksa—Teror Kekerasan Siang Bolong Mengguncang Warga

KENDARI – Teror kekerasan pecah di tengah hari. Lorong Macan, Jalan Mayjen Sutoyo, yang biasanya sunyi, mendadak berubah jadi saksi bisu aksi brutal, Senin (30/3/2026).

Seorang pria paruh baya berinisial AH (61) muncul dari lorong sempit dalam kondisi nyaris roboh. Tubuhnya bersimbah darah. Lehernya tersayat dalam. Tangannya robek. Ia berjalan limbung—seolah baru saja lolos dari maut.

Warga yang melihat langsung dilanda kepanikan. Ini bukan kecelakaan. Ini bukan insiden biasa. Ini kekerasan—dan diduga dilakukan dengan cara yang keji.

Luka di leher korban terlihat menganga dan berbahaya. Lengan kirinya tak hanya robek, tetapi juga menunjukkan tanda-tanda luka bakar yang diduga akibat puntung rokok. Indikasi ini mengarah pada satu hal yang lebih mengerikan: korban kemungkinan tidak hanya diserang, tetapi disiksa.

Tanpa alat, tanpa persiapan, warga bergerak cepat menyelamatkan korban. Dalam kepanikan, AH sempat dibonceng sepeda motor. Namun kondisinya terus memburuk. Evakuasi pun dipacu—ia dipindahkan ke mobil bak terbuka demi mengejar waktu.

Nyawanya dipertaruhkan di jalan.

Korban akhirnya tiba di RS Santa Anna Kendari sekitar pukul 14.45 Wita dan langsung mendapat penanganan intensif.

Kapolsek Kemaraya, Iptu Busran, membenarkan kondisi korban saat tiba di rumah sakit masih sadar, meski luka yang dialami tergolong berat.

“Korban mengalami luka robek di leher serta luka robek dan luka bakar pada tangan kiri,” tegasnya.

Namun fakta-fakta yang muncul justru memunculkan kegelisahan baru. Luka bakar yang ditemukan bukan detail kecil—itu adalah sinyal keras bahwa ada unsur penyiksaan dalam kejadian ini.

Artinya, ini bukan sekadar penganiayaan spontan.

Ini bisa jadi tindakan brutal yang dilakukan dengan sengaja, perlahan, dan tanpa rasa kemanusiaan.

Hingga kini, pelaku masih misterius. Polisi masih menyelidiki. Sementara itu, warga hidup dalam bayang-bayang ketakutan—khawatir pelaku belum jauh, atau bahkan masih berada di sekitar mereka.

Kejadian ini menampar rasa aman di ruang permukiman. Siang hari, di lorong sempit, seseorang bisa disayat dan disiksa tanpa ada yang tahu.

Dan satu pertanyaan kini menggantung, menekan, sekaligus menakutkan:

Jika pelaku belum tertangkap—siapa berikutnya?/Red.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *