Beranda / Uncategorized / Diamnya Pemimpin, Matinya Nurani:Ketua Badan Eksekutif mahasiswa UHO di Hadapan Teror Air Keras”

Diamnya Pemimpin, Matinya Nurani:Ketua Badan Eksekutif mahasiswa UHO di Hadapan Teror Air Keras”

La Ode Asraf Albani Salah Seorang Mahasiswa Program Studi ilmu politik UHO angkat suara dengan nada yang tajam dan penuh kegelisahan moral. Ia menyoroti sikap ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM) UHO yang dinilainya bungkam terhadap kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus. Dalam pandangannya, diamnya seorang pemimpin mahasiswa bukan sekadar kelalaian, tetapi bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh dunia akademik.

Asraf menegaskan bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan keberanian moral. Ketika terjadi tindakan kekerasan yang begitu keji, menurutnya, tidak ada alasan bagi seorang presiden mahasiswa untuk memilih diam. Ia mempertanyakan, apakah jabatan itu hanya simbol tanpa keberpihakan, ataukah memang telah kehilangan keberanian untuk bersuara di tengah ketidakadilan.

Lebih lanjut, Asraf mengkritik keras sikap apatis yang ditunjukkan oleh kepemimpinan mahasiswa tersebut. Ia menyebut bahwa diam dalam situasi seperti ini sama saja dengan membiarkan kekerasan tumbuh subur tanpa perlawanan. Dalam retorikanya yang tajam, ia mengatakan bahwa seorang pemimpin yang tidak bersuara di saat rakyatnya membutuhkan, sejatinya telah kehilangan legitimasi moralnya.

Baginya, tragedi yang menimpa Andrie Yunus bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus disikapi secara kolektif. Asraf menilai bahwa sikap diam ketua BEM UHO mencerminkan krisis empati dan lemahnya keberpihakan terhadap korban ketidakadilan. Ia bahkan menyebut bahwa ini adalah bentuk kegagalan dalam menjalankan amanah mahasiswa.

Dalam nada yang lebih keras, Asraf menantang Ketua Badan Eksekutif mahasiswa Universitas Haluoleo untuk keluar dari zona nyaman dan menunjukkan sikap tegas. Ia mengingatkan bahwa sejarah pergerakan mahasiswa selalu diwarnai oleh keberanian melawan ketidakadilan, bukan oleh keheningan yang mematikan. Baginya, kepemimpinan sejati diuji bukan saat situasi aman, tetapi ketika keberanian dibutuhkan.

Di akhir pernyataannya, Asraf menyerukan kepada seluruh mahasiswa untuk tidak ikut larut dalam diam. Ia mengajak untuk membangun kesadaran kolektif bahwa ketidakadilan yang dibiarkan hari ini akan menjadi ancaman bagi semua di masa depan. Baginya, suara mahasiswa adalah kekuatan, dan ketika suara itu dibungkam oleh ketakutan atau kepentingan, maka runtuhlah makna sejati dari perjuangan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *