Beranda / Peristiwa / Dugaan Wasit Tak Kompeten Hingga Penilaian Bermasalah, Pelatih UTTC Warning Keras Pengkot Taekwondo Kendari

Dugaan Wasit Tak Kompeten Hingga Penilaian Bermasalah, Pelatih UTTC Warning Keras Pengkot Taekwondo Kendari

KENDARI, MEDIASEKAWAN.COM – Pelatih Universitas Terbuka Taekwondo Class (UTTC), LM Ruspam Takasi, melontarkan peringatan keras kepada Pengurus Kota (Pengkot) Taekwondo Indonesia Kota Kendari terkait penyelenggaraan Youth Taekwondo Championship Series yang digelar di Sport Center Universitas Halu Oleo (UHO), 24 Mei 2026.

Ruspam menilai kejuaraan yang diperuntukkan bagi atlet kategori pra-cadet dan cadet tersebut berlangsung jauh dari harapan sebagai ajang pembinaan prestasi usia dini. Ia mengungkapkan adanya sejumlah persoalan mendasar, mulai dari kualitas perwasitan, sistem penilaian, hingga dugaan ketidaksesuaian identitas atlet yang bertanding.

Menurutnya, sejumlah wasit yang bertugas dinilai belum memahami secara baik regulasi pertandingan, sehingga banyak keputusan yang memicu protes dari pelatih maupun orang tua atlet.

“Masih ada wasit yang belum memahami dengan baik mana yang seharusnya bernilai poin dan mana yang merupakan pelanggaran. Bahkan perolehan poin dalam beberapa pertandingan tidak sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Ruspam.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti penggunaan Digital Scoring System (DSS) yang diduga menggunakan perangkat bermasalah. Kondisi tersebut disebut berdampak pada proses penilaian yang tidak akurat dan berpotensi merugikan atlet.

Akibat berbagai persoalan tersebut, suasana pertandingan sempat memanas. Sejumlah orang tua atlet melayangkan protes karena menilai anak-anak mereka bertanding dalam kondisi yang tidak fair. Beberapa pertandingan bahkan disebut nyaris memicu keributan di arena kejuaraan.

Ruspam mengaku pihaknya juga menemukan dugaan ketidaksesuaian identitas atlet pada partai final. Menurutnya, terdapat atlet yang tampil bertanding tidak sesuai dengan data peserta yang terdaftar.

“Yang terdaftar atlet A, tetapi yang bertanding justru atlet B. Kami mengalami langsung kejadian itu pada partai final. Ini persoalan serius yang harus mendapat perhatian,” tegasnya.

Ia meminta Komisi Etik dan Disiplin Pengkot Taekwondo Indonesia Kota Kendari tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam kejuaraan tersebut.

Menurutnya, pembiaran terhadap praktik-praktik semacam itu dapat memberikan dampak buruk terhadap perkembangan mental atlet usia dini sekaligus menghambat kemajuan olahraga taekwondo di Kota Kendari.

“Ini sangat berbahaya bagi psikologi atlet yang masih dalam tahap pembinaan. Jika terus dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap olahraga taekwondo bisa menurun,” katanya.

Sebagai Koordinator Bidang Sumber Daya dan Aset KONI Kota Kendari, Ruspam mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Ketua KONI Kota Kendari. Ia berharap ada langkah konkret untuk memperketat pengawasan dan pemberian izin pelaksanaan kejuaraan taekwondo di Kota Kendari agar kejadian serupa tidak terulang.

Selain menyoroti aspek teknis pertandingan, Ruspam juga mengingatkan pentingnya profesionalisme penyelenggara. Pasalnya, setiap peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp275 ribu untuk setiap kategori yang diikuti.

“Karena kejuaraan ini berbayar, penyelenggara sudah seharusnya menjaga mutu pelaksanaan, kualitas pertandingan, dan yang paling penting menjunjung tinggi sportivitas,” ujarnya.

Ia menegaskan, animo anak-anak untuk mengikuti kejuaraan taekwondo saat ini masih cukup tinggi. Namun jika kualitas penyelenggaraan terus menuai polemik dan kekecewaan, bukan tidak mungkin kepercayaan orang tua terhadap cabang olahraga tersebut akan menurun.

“Kalau kejuaraan seperti ini terus terjadi, lambat laun orang tua akan kecewa dan tidak lagi mendorong anak-anak mereka untuk menekuni taekwondo. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya.

Kritik yang disampaikan UTTC tersebut menjadi alarm bagi Pengkot Taekwondo Indonesia Kota Kendari untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas penyelenggaraan kejuaraan. Sebab, di balik setiap keputusan yang dipersoalkan, terdapat masa depan atlet-atlet muda yang sedang dibina menuju prestasi.(RED)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *