Kendari, Mediasekawan.com 10 Juni 2026 – Sebuah penelitian mandiri yang dilakukan di lingkungan Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo (UHO) menemukan bahwa pelatihan seni tari tradisional berperan sangat strategis sebagai media pelestarian budaya sekaligus sarana pembentukan karakter bagi calon pendidik.
Ridayat, S.Pd., M.Pd., Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Halu Oleo yang menjadi narasumber utama dalam penelitian ini menjelaskan bahwa survei awal menunjukkan sebagian besar mahasiswa belum memahami fungsi seni sebagai upaya melestarikan budaya Sulawesi Tenggara maupun sebagai alat membentuk kepribadian.
“Pelatihan ini disusun dalam dua tahap: tahap jangka pendek berfokus pada keterampilan teknis dan pendampingan, sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah membentuk karakter mahasiswa yang mandiri, kuat, dan tangguh, serta mampu menularkan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya,” jelasnya.
Tari Tradisional: Lebih dari Sekadar Gerakan
Penelitian ini mengungkapkan bahwa tari tradisional daerah seperti Tari Lulo, Balumpa, dan Mondotambe bukan sekadar warisan estetis, melainkan media edukatif yang efektif menanamkan nilai disiplin, kerja sama, tanggung jawab, toleransi, dan penghormatan terhadap kearifan lokal. Melalui pembelajaran langsung yang memadukan aspek pengetahuan, perasaan, dan keterampilan, mahasiswa tidak hanya menguasai gerakan, tetapi juga memahami makna filosofis dan sejarah di balik setiap tarian.
“Saya awalnya menganggap tari tradisional kaku dan tidak relevan dengan profesi guru sejarah. Namun setelah terlibat langsung, saya sadar setiap gerakan memiliki nilai sejarah dan makna yang mendalam,” ungkap salah satu peserta pelatihan.
Ridayat menambahkan bahwa kegiatan ini juga terbukti meningkatkan kompetensi, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi mahasiswa, sekaligus memperkaya metode pembelajaran sejarah agar lebih menarik dan kontekstual. Suasana interaktif selama pelatihan pun mempererat hubungan antara pengajar dan mahasiswa, menciptakan ruang dialog yang demokratis dan saling menghargai.
Benteng Identitas di Tengah Arus Globalisasi
Di tengah gempuran budaya global yang berpotensi mengikis jati diri, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan tari berperan penting sebagai benteng penguatan identitas budaya. Mahasiswa diajak membangun rasa bangga dan tanggung jawab terhadap warisan leluhur, serta memahami bahwa menjadi modern tidak harus meninggalkan akar budaya sendiri. Kegiatan ini juga menumbuhkan sikap saling menghargai antar mahasiswa dari latar belakang budaya yang berbeda, sehingga terbentuk karakter kebhinekaan yang kuat.
Dampak positifnya terlihat secara menyeluruh: mahasiswa menjadi lebih disiplin, peka terhadap lingkungan, lebih antusias mempelajari sejarah, bahkan banyak yang berinisiatif mengembangkan kegiatan budaya di lingkungan sekitarnya.
Rekomendasi Pengembangan Berkelanjutan
Sebagai bagian dari hasil penelitian mandiri ini, Ridayat memberikan sejumlah rekomendasi. Ia menyarankan agar kegiatan pelatihan tari ini dijadikan program rutin yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan sejarah. Dukungan institusional sangat diperlukan, meliputi penyediaan fasilitas memadai, alokasi waktu yang jelas, serta program pelatihan lanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan.
Selain itu, kolaborasi dengan komunitas budaya lokal dan pelatih profesional dapat memperkaya materi serta mempererat hubungan mahasiswa dengan masyarakat. Dokumentasi kegiatan dan publikasi hasil penelitian juga perlu dioptimalkan sebagai sarana penyebaran pengetahuan dan inspirasi bagi perguruan tinggi maupun sekolah lain di Indonesia.
“Pengelolaan yang terstruktur akan membuat pelatihan ini terus mencetak calon pendidik yang tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga memiliki kepedulian budaya, berkarakter kuat, dan siap menjadi agen pelestarian warisan bangsa,” pungkas Ridayat.
Sumber: Hasil Penelitian Mandiri
Narasumber: Ridayat, S.Pd., M.Pd.
Jabatan: Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Halu Oleo
Tanggal: 10 Juni 2026














