Beranda / Sosial / Dugaan Dualisme Lakino Kulisusu Jadi Sorotan, HIPMASUS-KENDARI Pertanyakan Pelaksanaan Haroano Lipu

Dugaan Dualisme Lakino Kulisusu Jadi Sorotan, HIPMASUS-KENDARI Pertanyakan Pelaksanaan Haroano Lipu

‎Buton Utara, Mediasekawan.com 04 Oktober 2026 — Pelaksanaan Festival Budaya Haroano Lipu di Kabupaten Buton Utara (Butur) menjadi sorotan di tengah mencuatnya persoalan internal dalam tatanan Sara Barata Kulisusu, khususnya terkait posisi Lakino Kulisusu atau Raja Kulisusu.
‎
‎Haroano Lipu merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Kulisusu yang dilaksanakan secara turun-temurun dan hingga kini terus dilestarikan. Tradisi tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan kebesaran dan eksistensi Sara Barata Kulisusu sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kulisusu.
‎
‎Rangkaian kegiatan Haroano Lipu tahun 2026 dijadwalkan berlangsung pada 8 Oktober dan 5 November 2026. terjadinya dua rangkaian kegiatan haroano Lipu ini di akibatkan karena terdapat dua lakino Kulisusu (Raja Kulisusu).
‎
‎Sehingga, di balik pelaksanaan agenda budaya tersebut, muncul sorotan terhadap kondisi internal Sara Barata Kulisusu yang disebut mengalami dugaan dualisme, terutama pada posisi Lakino Kulisusu.
‎
‎Wakil Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kulisusu (HIPMASUS)-KENDARI, Adit, mempertanyakan pelaksanaan rangkaian Haroano Lipu apabila persoalan mengenai kepemimpinan adat tersebut belum mendapatkan kejelasan.
‎
‎Menurutnya, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan kejelasan dan keharmonisan dalam struktur adat. Sebab, persoalan mengenai legitimasi kepemimpinan adat dinilai tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan tradisi yang membawa nama besar Sara Barata Kulisusu.
‎
‎“Festival ini setiap tahun dilaksanakan sebagai bagian dari upaya melestarikan tradisi budaya yang ada dalam Sara Barata Kulisusu. Namun, melihat kondisi internal Sara Barata Kulisusu hari ini yang disebut terjadi dualisme, terutama pada Lakino Kulisusu, tentu ini menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Buton Utara. Ada apa sebenarnya dengan lembaga Sara Barata Kulisusu hari ini?” ujar Adit.
‎
‎Adit menilai, persoalan tersebut perlu mendapatkan penjelasan secara terbuka agar masyarakat tidak berada dalam kebingungan mengenai siapa yang memiliki legitimasi dalam tatanan kepemimpinan adat Kulisusu.
‎
‎Ia juga menyoroti rangkaian Haroano Lipu yang dilaksanakan pada 8 Oktober dan akan dilanjutkan pada 5 November 2026. Menurutnya, pelaksanaan rangkaian kegiatan tersebut harus disertai kejelasan mengenai persoalan internal yang saat ini menjadi perhatian masyarakat.
‎
‎“Ini bukan semata-mata persoalan pelaksanaan sebuah kegiatan budaya. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana memastikan marwah, legitimasi, dan keharmonisan tatanan Sara Barata Kulisusu tetap terjaga. Jangan sampai masyarakat justru bertanya-tanya mengenai kondisi lembaga adatnya sendiri,” katanya.
‎
‎Adit menegaskan, apabila rangkaian Haroano Lipu tetap dilaksanakan pada 5 November 2026, pihaknya akan mengawal persoalan dugaan dualisme di tubuh Sara Barata Kulisusu hingga terdapat kejelasan, khususnya mengenai posisi Lakino Kulisusu.
‎
‎“Jika Haroano Lipu ini tetap dilaksanakan pada 5 November 2026, kami akan mengawal persoalan dualisme di lembaga Sara Barata Kulisusu sampai mendapatkan titik terang, terutama mengenai Lakino Kulisusu yang merupakan pimpinan tertinggi dalam tatanan Sara Barata Kulisusu. Masyarakat tentu bertanya-tanya, ada apa dengan internal Sara Barata Kulisusu hari ini?” tegas Adit.
‎
‎Menurut Adit, persoalan tersebut sebaiknya diselesaikan melalui mekanisme adat yang dapat diterima oleh seluruh pihak. Kejelasan mengenai kepemimpinan adat dinilai penting untuk menjaga wibawa lembaga adat sekaligus memastikan nilai-nilai budaya Kulisusu tetap diwariskan tanpa dibayangi konflik internal.
‎
‎Ia berharap persoalan yang terjadi dalam Sara Barata Kulisusu segera menemukan titik temu sehingga tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.
‎
‎“Semoga persoalan internal Sara Barata Kulisusu dapat segera diselesaikan secara baik dan bermartabat. Pelestarian budaya harus tetap berjalan, tetapi marwah dan keharmonisan tatanan adat juga harus dijaga,” pungkasnya.

Redaksi : Mediasekawan

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *