KENDARI – Situasi keamanan di lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menjadi sorotan tajam menyusul insiden kekerasan berupa pengeroyokan dan penikaman yang menimpa seorang mahasiswa bernama Pedro. Peristiwa mengerikan ini terjadi tepat di halaman Fakultas Peternakan dan terekam kamera pengawas (CCTV), yang kemudian viral di media sosial.
Berdasarkan rekaman video yang beredar, insiden bermula saat korban sedang bersantai bersama temannya. Kedamaian itu pecah ketika dua orang berpakaian serba hitam mendatangi dan melakukan serangan. Awalnya hanya adu mulut, namun situasi memanas hingga berujung pada kekerasan fisik. Salah satu pelaku diketahui menggunakan senjata tajam jenis badik untuk menikam korban, sebelum akhirnya melarikan diri dari lokasi kejadian.
Pihak kepolisian melalui keterangan awal menyebutkan bahwa motif kejadian dipicu oleh masalah sepele terkait teguran soal rambut. Namun, motif tersebut dinilai tidak relevan dan tidak dapat membenarkan tindakan yang dilakukan.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FKIP UHO, Uman, menyatakan sikap keras dan mengecam keras aksi brutal tersebut. Menurutnya, peristiwa ini merupakan bukti nyata kegagalan sistem keamanan dan mencoreng wajah dunia akademik yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan manusiawi.
“Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan tindakan kekerasan sekeji ini. Ini adalah tindakan barbar yang tidak bisa ditoleransi,” tegas Uman dalam pernyataan resminya, Senin (14/04).
Uman menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan terus mengawal proses hukum kasus ini. Berikut adalah tuntutan yang disampaikan:
1. Mendesak Polda Sultra untuk segera menangkap seluruh pelaku dan mengusut tuntas kasus ini sampai ke akar-akarnya.
2. Menuntut profesionalitas dan transparansi aparat penegak hukum dalam mengungkap fakta, tanpa ada upaya penutupan informasi.
3. Tindak tegas oknum, terkait adanya dugaan keterlibatan oknum anggota Polri dalam pemukulan, jika terbukti bersalah harus diproses secara hukum dan etik tanpa kompromi.
4. Evaluasi total keamanan, mendesak pihak rektorat dan fakultas untuk segera memperbaiki dan mengevaluasi sistem keamanan kampus agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
“Kami menuntut keadilan bagi korban. Keadilan harus benar-benar ditegakkan,” pungkasny














