Buton, Mediasekawan.com 04 Oktober 2026 — Krisis sinyal telekomunikasi atau blank spot masih melumpuhkan sejumlah wilayah di Kabupaten Buton. Mulai dari pelosok Lasalimu, pesisir Kapontori, hingga Kecamatan Wolowa, keterisolasian akses komunikasi belum menemukan titik terang.
Janji percepatan infrastruktur digital yang digaungkan Pemerintah Kabupaten Buton dinilai belum menyentuh akar persoalan yang dialami warga di tingkat desa.
Babar, pemuda Desa Wolowa Baru, menyuarakan keresahan warga yang merasa tertinggal di tengah pesatnya modernisasi digital daerah lain. Menurutnya, persoalan jaringan bukan hanya terjadi di satu atau dua titik, melainkan tersebar merata di berbagai pelosok Buton.
“Di sini, kami seperti hidup di wilayah terisolir. Keterbatasan sinyal internet dan telepon benar-benar melumpuhkan aktivitas warga sehari-hari,” tegas Babar.
Dampaknya luas. Pelajar kesulitan mengakses bahan belajar, pelayanan administrasi desa kerap tertunda, dan pelaku usaha lokal tak dapat memasarkan produk secara daring. Untuk sekadar mengirim pesan atau melakukan panggilan suara, warga harus berupaya lebih.
Babar menyoroti kinerja Bupati Buton, Alvin Akawijaya Putra, yang dinilainya terlalu lambat mengeksekusi janji perbaikan telekomunikasi. Diplomasi dan rapat koordinasi yang dipublikasikan pemerintah daerah dinilai belum berdampak langsung bagi desa-desa terisolasi sinyal.
“Masyarakat tidak butuh retorika atau wacana perencanaan. Yang kami butuhkan adalah langkah konkret—tower pemancar yang berfungsi dan sinyal stabil di pemukiman warga,” ujarnya.
Babar mendesak Bupati Buton bersama Dinas Kominfo turun langsung ke lapangan dan menetapkan jadwal pasti penanganan jaringan. Jika desakan diabaikan, ia menegaskan pemuda desa siap menggalang gerakan massa untuk menyuarakan ketimpangan pembangunan infrastruktur digital secara lebih luas.
Redaksi : Mediasekawan













