Kendari, Mediasekawan.com 1 Juli 2026 — Aliansi Mahasiswa se-Buton Utara (Butur) menggelar aksi cipta kondisi (cipkon) di kawasan Perempatan Pasar Baru, Kota Kendari, pada Selasa malam. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Kabupaten Buton Utara.
Dalam aksi tersebut, massa mahasiswa turun langsung ke jalan untuk menyampaikan sejumlah problematika yang dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi. Aksi berlangsung sejak sore hingga malam hari dalam suasana aman, tertib, dan kondusif.
Aliansi Mahasiswa se-Butur menyampaikan beberapa tuntutan terkait persoalan yang terjadi di Kabupaten Buton Utara, di antaranya:
1. Meminta Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Sulawesi Tenggara untuk memeriksa legalitas akta hibah Asrama Butur serta mendesak DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara segera mengaudit pihak-pihak terkait dalam polemik pembangunan Asrama Butur.
2. Mendesak Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk segera mengawasi dan membina Dinas Perhubungan Kabupaten Buton Utara dalam pengelolaan fasilitas pelabuhan serta penggunaan anggaran agar sesuai dengan peraturan yang berlaku.
3. Mendesak DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara menggunakan fungsi pengawasan dan penganggaran untuk mendorong Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) segera melakukan perbaikan total terhadap jalan provinsi yang rusak di sejumlah kecamatan di Kabupaten Buton Utara.
4. Mendesak DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara untuk mengaudit transparansi beasiswa daerah, menghentikan pemadaman listrik berkepanjangan di wilayah pelosok, serta mendorong pembangunan menara BTS di wilayah blank spot di Kabupaten Buton Utara.
Aksi cipta kondisi tersebut juga menjadi momentum refleksi sejarah perjuangan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Buton Utara. Massa aksi menilai bahwa semangat perjuangan masyarakat dalam memperjuangkan pemekaran daerah harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Salah seorang mahasiswa dalam orasinya menyampaikan bahwa aksi tersebut bukan sekadar bentuk eksistensi mahasiswa, melainkan upaya untuk merefleksikan kembali nilai-nilai perjuangan masyarakat Buton Utara.
“Kami yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa se-Butur turun melakukan cipta kondisi hari ini bukan untuk menaikkan eksistensi kelompok, melainkan sebagai bentuk penghargaan dan refleksi atas perjuangan para pendahulu dalam memperjuangkan pemekaran Kabupaten Buton Utara,” ujarnya.»
Sejak dimulai hingga massa aksi membubarkan diri, kegiatan berlangsung dengan tertib dan damai tanpa adanya tindakan yang mengganggu ketertiban umum, termasuk tanpa aksi pembakaran ban.
Aliansi Mahasiswa se-Butur juga menyampaikan bahwa mereka akan kembali menggelar aksi lanjutan pada 2 Juli 2026 sebagai bentuk konsistensi dalam mengawal berbagai persoalan di Kabupaten Buton Utara.
Redaksi : Mediasekawan














