Beranda / Sosial / Bendung Langkowala Kritis Akibat Sedimentasi dan Dugaan Dampak PETI, Petani Lantari Jaya Minta Menteri Pertanian Turun Tangan

Bendung Langkowala Kritis Akibat Sedimentasi dan Dugaan Dampak PETI, Petani Lantari Jaya Minta Menteri Pertanian Turun Tangan

BOMBANA MEDIASEKAWAN.COM – Nasib ratusan petani di Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, kini berada di ujung tanduk. Bendung Langkowala yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan utama pengairan sawah masyarakat dilaporkan mengalami pendangkalan parah akibat timbunan lumpur, sehingga tidak lagi mampu menampung air secara maksimal. Kondisi tersebut mengancam ratusan hektare lahan pertanian dan berpotensi memicu gagal panen massal pada musim tanam tahun ini.(Jum’at/05/Juni/2026).

Keluhan tersebut disampaikan Ketua Kelompok Tani Sinar Harapan Desa Lombakasi, Ikep, yang menyebut para petani telah lama menyuarakan persoalan tersebut kepada berbagai pihak. Namun hingga kini, belum terlihat adanya langkah konkret untuk melakukan normalisasi Bendung Langkowala yang menjadi urat nadi pertanian masyarakat di wilayah tersebut.

Menurut Ikep, sedikitnya hampir 500 hektare sawah di Desa Lombakasi bergantung pada pasokan air dari Bendung Langkowala. Belum termasuk areal persawahan di Desa Kalaero, Langkuala, dan Watu-Watu yang juga memanfaatkan sumber air yang sama untuk kebutuhan irigasi.

“Petani sudah mulai menanam. Ada yang umur tanamnya sudah lebih dari seminggu, bahkan ada yang lebih dari dua pekan. Tapi kondisi air sangat minim. Kalau hujan tidak turun dalam waktu dekat, kami khawatir tanaman akan mati dan petani kembali mengalami gagal panen,” ujarnya.kepada awak media ini jumat(5/6/26)

Ia menjelaskan, persoalan utama bukan terletak pada saluran irigasi, melainkan pada kondisi bendungan yang telah dipenuhi sedimentasi. Akibatnya, air hujan yang masuk tidak dapat tertampung dalam jumlah besar dan langsung mengalir keluar sehingga cadangan air cepat habis ketika musim kemarau mulai datang.

Lebih memprihatinkan lagi, para petani menduga aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berlangsung di wilayah sekitar turut mempercepat pendangkalan Bendung Langkowala. Material lumpur yang terbawa aliran sungai diduga terus mengendap di area bendungan selama bertahun-tahun tanpa penanganan serius.

“Kalau bendungan ini dinormalisasi dan lumpurnya dikeruk, kami yakin air bisa tertampung kembali seperti dulu. Persoalan kami sebenarnya sederhana, petani hanya butuh air untuk menghidupi sawah mereka,” kata Ikep.

Keluhan serupa disampaikan Kepala Desa Watu-Watu, Nasrin. Ia mengungkapkan bahwa sedimentasi di Bendung Langkowala saat ini sudah sangat parah hingga mencapai bagian atas mercu bendungan. Kondisi tersebut menyebabkan air yang datang saat musim hujan tidak lagi masuk ke tampungan bendungan, melainkan langsung mengalir ke sungai.

Menurut Nasrin, dampak kerusakan bendungan tidak hanya dirasakan petani di Watu-Watu, tetapi juga masyarakat di sejumlah desa lainnya yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Jika tidak segera ditangani, ancaman gagal panen diperkirakan akan meluas dan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.

“Kalau tahun ini gagal lagi, maka petani mengalami dua kali gagal panen berturut-turut. Padahal biaya pengolahan lahan dan penanaman per hektare mencapai jutaan rupiah. Kerugian yang ditanggung masyarakat tentu sangat besar,” tegasnya.

Para petani menilai persoalan Bendung Langkowala tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah lokal semata. Mereka meminta perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bombana, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, hingga pemerintah pusat karena menyangkut keberlangsungan produksi pangan dan kesejahteraan ribuan warga.

Secara khusus, petani meminta Menteri Pertanian Republik Indonesia untuk turun tangan melihat langsung kondisi Bendung Langkowala dan menginstruksikan percepatan normalisasi bendungan beserta jaringan irigasinya. Mereka berharap pemerintah pusat dapat menghadirkan solusi nyata sebelum musim tanam berakhir dengan kegagalan panen yang lebih luas.

“Harapan kami kepada Bapak Menteri Pertanian, tolong lihat kondisi kami di Lantari Jaya. Bendung Langkowala adalah sumber kehidupan petani. Jika bendungan ini segera dinormalisasi, ratusan hektare sawah bisa terselamatkan. Tetapi jika terus dibiarkan, maka ribuan petani dan keluarganya akan menjadi korban,” pungkas Ikep./AR.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *